Brian mencatat, perlambatan kredit ini terjadi dalam beberapa kondisi yang kurang mendukung. Permintaan kredit memang sedang lemah, korporasi lebih memilih mengoptimalkan pembiayaan internal, dan tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi.
Ironisnya, penurunan suku bunga kebijakan sejak tahun lalu belum sepenuhnya tersalurkan ke suku bunga kredit. Rata-rata suku bunga kredit baru turun ke level 9 persen pada Oktober. Sementara itu, suku bunga deposito satu bulan sudah turun lebih dalam ke 4,25 persen. Selisihnya masih cukup lebar.
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya sudah mengingatkan soal ini. Dia menilai perlambatan penyaluran kredit dipengaruhi sikap wait and see pelaku usaha yang masih menahan ekspansi. Korporasi memilih optimalisasi pembiayaan internal, dan suku bunga kredit yang masih relatif tinggi jadi faktor penghambat.
"Pertumbuhan kredit perbankan perlu terus ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," tegas Perry Warjiyo.
Yang cukup mencengangkan, fasilitas pinjaman yang belum dicairkan atau undisbursed loan pada Oktober 2025 masih sangat besar. Angkanya mencapai Rp2.450,7 triliun atau 22,97 persen dari plafon kredit yang tersedia. Dana yang menganggur ini cukup signifikan.
Jadi, meski ada ruang untuk menyalurkan lebih banyak kredit, realisasinya masih terhambat oleh berbagai faktor. Mulai dari kehati-hatian bank hingga kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya kondusif.
Artikel Terkait
Gus Yaqut Ditahan KPK, Kooperatif Hadapi Kasus Kuota Haji
Gunungan Sampah Bantargebang Bakal Disulap Jadi Harta Karun Energi
Nomade Coffee Truck Hijrah ke Pejaten Usai Kalah Saing di Thamrin
Pramono Anung Tegaskan UMP Jakarta 2026 Tak Berubah, Usulan KSPI Ditolak