Namun begitu, tanggapan Dahnil justru memicu gelombang kritik. Dalam sebuah forum, ia menyebut pernyataan Anwar dengan sebutan "cangkemnya" dan menilai kiai sepuh itu tidak paham persoalan haji. Reaksinya itu yang kemudian jadi bahan perdebatan.
Di sisi lain, kritik terhadap Dahnil ternyata tak cuma datang dari internal Muhammadiyah. Mantan Wakil Sekjen MUI, Kiai Ikhsan, juga ikut menyoroti. Ia menilai pejabat publik seharusnya memilih kata-kata yang tidak menyakiti dan justru memberi harapan.
Farid Idris menambahkan poin penting. Publik Muhammadiyah, katanya, punya sensitivitas tinggi terhadap penggunaan jabatan publik untuk kepentingan pribadi atau politik. Pilihan kata Dahnil dinilai menunjukkan arogansi dan ketidakmatangan emosional dalam merespons kritik.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari Dahnil soal tuntutan pencopotan dirinya. Yang jelas, polemik kecil ini membuka satu hal: perhatian publik terhadap tata kelola haji memang makin tinggi. Dan etika komunikasi pejabat negara saat menghadapi kritik, itu bukan hal sepele.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir