Di hadapan ratusan kepala daerah yang memadati Sentul International Convention Center, Bogor, Senin lalu, Prabowo Subianto menyampaikan pesannya dengan nada tegas. Suasana hening sejenak. Presiden itu tak hanya bicara soal rencana pembangunan, tapi juga mengirimkan peringatan keras.
Ultimatumnya ditujukan pada pejabat negara yang pernah main-main dengan uang rakyat. "Siap-siap kau dipanggil Kejaksaan," ujarnya, tanpa tedeng aling-aling. Menurutnya, waktunya untuk pertanggungjawaban sudah di depan mata.
Peringatan itu muncul setelah ia menjelaskan soal pengelolaan kekayaan negara. Prabowo menyebut, aset-aset negara yang tadinya tercerai-berai kini dihimpun dalam Badan Pengelola Investasi atau Danantara. Nilainya fantastis: sekitar 1.040 miliar dolar AS.
"Bayangkan enggak?" katanya, mencoba menggambarkan betapa ruwetnya sebelumnya. "Tadinya terpecah-pecah dalam seribuan perusahaan lebih. Siapa yang bisa me-manage seribu perusahaan? Ini akal-akalan saja."
Nah, dari situlah kemarahannya muncul. Ia menilai, kondisi yang berantakan itu membuka celah bagi yang tidak bertanggung jawab. Dan sekarang, ia ingin semua itu berakhir.
"Jangan enak-enak kau," sambung Prabowo, menirukan ejekan yang ia dengar. Katanya, ada yang menganggap dirinya cuma bisa berkoar di podium. Tapi ia tak peduli. "Oh ya? Ya tunggu saja panggilan. Lo jangan nantang gue lo."
Kalimat terakhirnya justru lebih personal. Suaranya sedikit lebih rendah, tapi maknanya dalam.
"Saya hanya takut sama rakyat Indonesia dan Tuhan Maha Besar. Saya. Dan kita semuanya harusnya begitu."
Rakornas 2026 itu pun berlanjut. Namun pesannya sudah terkirim: ada angin perubahan dalam penegakan hukum, dan mereka yang punya 'masalah' sebaiknya bersiap.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir