Luhut Murka: Saya Tak Punya Saham TPL, Justru Ingin Pabriknya Ditutup!

- Selasa, 13 Januari 2026 | 09:50 WIB
Luhut Murka: Saya Tak Punya Saham TPL, Justru Ingin Pabriknya Ditutup!

Luhut Binsar Pandjaitan terlihat jelas kesal. Dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagramnya, Senin malam lalu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi itu membantah keras kabar yang menyebut dirinya punya saham di PT Toba Pulp Lestari.

"Saya tidak pernah punya saham, kecuali di perusahaan saya, yaitu Toba Sejahtra, yang saya buat sendiri. Di situ ada Kutai Energi. satu-satunya yang punya IUP, yang saya dapat tahun 2003 atau 2004, IUP batu bara di Kutai Kartanegara, ya itu, itulah sampai hari ini milik saya," tegasnya.

Suaranya terdengar tegang. Tuduhan bahwa ia terkait dengan perusahaan bubur kertas di Sumatera Utara itu rupanya menyentuh sisi personal.

"Saya maaf agak jengkel ini, karena menurut saya sudah menyangkut dignity, menyangkut harga diri," imbuh Luhut.

Dia bahkan menantang secara terbuka. "Kalau ada orang nuduh saya punya saham, saham mana? Tunjukin!" ujarnya. Menurutnya, dalam demokrasi yang sehat, kritik harus punya dasar data yang kuat, bukan sekadar tebak-tebakan atau asumsi yang digoreng.

Alih-alih punya kepentingan, Luhut justru mengklaim punya sejarah panjang menentang keberadaan Toba Pulp Lestari. Penolakannya ini sudah dimulai sejak lebih dari dua dekade silam, tepatnya saat ia masih menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era Presiden Gus Dur.

Waktu itu, keluhan masyarakat soal kerusakan lingkungan hidup sudah membanjir. Mereka demo, marah melihat Danau Toba yang keruh dan berbau, sementara kawasan hutan di sekitarnya rusak parah akibat operasional pabrik.

"Nah waktu jamannya Gus Dur, itu saya usulkan langsung setelah pulang dari situ. Jadi kita suspend aja, kita tutup aja," kenangnya.

Usulnya waktu itu dituruti. Perusahaan sempat ditutup pada 2001. Namun, ceritanya tak berakhir di situ. Lobi-lobi yang ia sebut "luar biasa" membuat pabrik itu kembali beroperasi dua tahun kemudian, pada 2003. Sejak itu, perusahaan ini memang seperti karet, beberapa kali ditutup pemerintah karena masalah lingkungan, tapi selalu bisa bangkit lagi.

Bagi Luhut, Toba Pulp Lestari yang didirikan Sukanto Tanoto ini adalah biang kerok kerusakan hutan terbesar di kawasan Tapanuli. Itu sebabnya, ketika Presiden Prabowo Subianto mulai menjalankan pemerintahannya, Luhut kembali angkat bicara. Ia melaporkan persoalan ini langsung ke orang nomor satu.

"Jadi saya waktu menghadap Presiden, saya laporkan kepada beliau bahwa 'menurut saya Pak Presiden, karena sekarang Bapak sudah memerintahkan untuk membuat genome sequencing dan menjadi seeding industry, pabrik bibit untuk hortikultura di Humbang Hasundutan, ya sekalian saja Pak, di-relinguish tanahnya TPL itu sehingga petani bisa kerja di sana, rakyat'," ucap Luhut.

Lebih dari sekadar usulan, ia bahkan menyarankan langkah yang lebih tegas: mencabut izin usaha Toba Pulp Lestari. Kerusakan yang ditimbulkan dinilainya sudah terlalu masif dan merugikan negara.

"Bukan hanya menentang. Saya saran pada Presiden untuk dicabut. Masa kita dikontrol oleh satu orang saja yang mengontrol hampir 200.000 hektare tanah di sana? Ya enggak bener lah," tukasnya dengan nada getir.

Di akhir pernyataannya, Luhut seolah menyimpulkan kekecewaannya. "Saya setuju banget dengan Presiden. Itu orang-orang kaya yang menikmati hasil bumi kita tinggal saja di luar, bawa duitnya keluar. Apa yang kita dapat? Ya kerusakan ini yang kita dapat."

Pernyataan tegasnya itu kini menunggu respons. Baik dari pihak-pihak yang menuduh, maupun dari perusahaan yang disebut-sebut telah merusak lingkungan itu.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar