Usulnya waktu itu dituruti. Perusahaan sempat ditutup pada 2001. Namun, ceritanya tak berakhir di situ. Lobi-lobi yang ia sebut "luar biasa" membuat pabrik itu kembali beroperasi dua tahun kemudian, pada 2003. Sejak itu, perusahaan ini memang seperti karet, beberapa kali ditutup pemerintah karena masalah lingkungan, tapi selalu bisa bangkit lagi.
Bagi Luhut, Toba Pulp Lestari yang didirikan Sukanto Tanoto ini adalah biang kerok kerusakan hutan terbesar di kawasan Tapanuli. Itu sebabnya, ketika Presiden Prabowo Subianto mulai menjalankan pemerintahannya, Luhut kembali angkat bicara. Ia melaporkan persoalan ini langsung ke orang nomor satu.
"Jadi saya waktu menghadap Presiden, saya laporkan kepada beliau bahwa 'menurut saya Pak Presiden, karena sekarang Bapak sudah memerintahkan untuk membuat genome sequencing dan menjadi seeding industry, pabrik bibit untuk hortikultura di Humbang Hasundutan, ya sekalian saja Pak, di-relinguish tanahnya TPL itu sehingga petani bisa kerja di sana, rakyat'," ucap Luhut.
Lebih dari sekadar usulan, ia bahkan menyarankan langkah yang lebih tegas: mencabut izin usaha Toba Pulp Lestari. Kerusakan yang ditimbulkan dinilainya sudah terlalu masif dan merugikan negara.
"Bukan hanya menentang. Saya saran pada Presiden untuk dicabut. Masa kita dikontrol oleh satu orang saja yang mengontrol hampir 200.000 hektare tanah di sana? Ya enggak bener lah," tukasnya dengan nada getir.
Di akhir pernyataannya, Luhut seolah menyimpulkan kekecewaannya. "Saya setuju banget dengan Presiden. Itu orang-orang kaya yang menikmati hasil bumi kita tinggal saja di luar, bawa duitnya keluar. Apa yang kita dapat? Ya kerusakan ini yang kita dapat."
Pernyataan tegasnya itu kini menunggu respons. Baik dari pihak-pihak yang menuduh, maupun dari perusahaan yang disebut-sebut telah merusak lingkungan itu.
Artikel Terkait
PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD, Usul E-Voting untuk Tekan Biaya
Momen Spontan Staf Bersihkan Sepatu Menko Pangan Saat Kunjungan Kerja di Wonosobo
Target Kandang Gajah Kaesang di Jawa Tengah Dinilai Mimpi di Siang Bolong
Klaim Pertemuan Damai-Jokowi Dipertanyakan, Roy Suryo Soroti Kecurigaan Pencairan