Sebuah kabar duka datang dari Papua. Prajurit TNI, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, asal Asahan, Sumatera Utara, dilaporkan tewas saat bertugas. Yang membuat pilu, kematiannya diduga kuat bukan karena musuh, melainkan akibat penganiayaan oleh seniornya sendiri sesama anggota.
Insiden memilukan ini terjadi pada hari terakhir tahun 2025, tanggal 31 Desember. Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat, Brigjen TNI Donny Pramono, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah bergerak cepat. Oknum prajurit senior yang diduga terlibat kini telah diamankan.
“Dugaan keterlibatan oknum prajurit senior telah ditindaklanjuti dengan mengamankan yang bersangkutan dan melakukan proses investigasi secara menyeluruh oleh unsur komando terkait,” jelas Donny, Senin (5/1/2026).
“Saat ini, kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan untuk memastikan fakta secara objektif dan transparan,” tambahnya.
Donny menegaskan sikap tegas institusinya. TNI AD, katanya, sama sekali tidak memberi toleransi untuk kekerasan di luar aturan. Janjinya, sanksi tegas menanti siapa pun yang terbukti bersalah.
“Kami menegaskan bahwa TNI AD tidak menoleransi segala bentuk kekerasan di luar aturan, terlebih yang mengakibatkan hilangnya nyawa prajurit. Apabila dari hasil penyelidikan terbukti adanya pelanggaran hukum maupun disiplin militer, maka proses hukum akan ditegakkan secara tegas sesuai ketentuan yang berlaku,” tegas Donny.
Di sisi lain, rasa duka cita yang mendalam disampaikan pihak TNI AD atas gugurnya Pratu Farkhan. Donny memastikan komitmen pimpinan untuk mengusut tuntas kasus ini. Tujuannya jelas: mencari keadilan untuk almarhum dan keluarganya, sekaligus menjaga marwah institusi.
Kronologi Kelam dari Keluarga
Dari sisi keluarga korban, cerita yang terungkap justru lebih menyayat hati. Mereka menaruh curiga kuat bahwa Farkhan tewas setelah dianiaya seniornya yang berpangkat Kopral.
Ayah Farkhan, Zakaria Marpaung, bercerita. Awalnya, keluarga cuma dapat kabar bahwa putranya sedang sakit. Informasi itu datang dari sepupu Farkhan yang juga bertugas di Papua. Katanya, Farkhan sempat menghangatkan badan di dekat perapian karena tak enak badan.
“Dia lagi tugas ke Papua,” ujar Zakaria.
Namun begitu, situasi berubah. Seorang senior berpangkat Sersan mendekati Farkhan di perapian itu dan menanyakan keadaannya. Farkhan mengaku sakit. Sang Sersan bahkan sempat memijat tubuhnya.
Lalu, datanglah seorang Kopral.
“Selanjutnya datang yang Kopral ini, lalu memanggil (Farkhan), diajak ke samping,” kenang Zakaria.
Setelahnya, teror dimulai. Menurut penuturan keluarga, Farkhan disuruh tunduk lalu dipukul punggungnya dengan ranting. Bukan cuma sekali. Tak berhenti di situ, kopral itu juga menendangnya hingga Farkhan tersungkur. Sebuah akhir tugas yang sangat tragis untuk seorang prajurit muda.
Artikel Terkait
Dua Bus Transjakarta Tabrakan di Cipulir, Diduga Pengemudi Tertidur
AS Keluarkan Peringatan Berlindung di Meksiko Usai Kematian El Mencho Picu Kekerasan
Nadiem Ungkap Pernah Dirawat di RS karena Pendarahan di Sidang Korupsi Chromebook
Balita Surabaya Dianiaya Paman dan Bibi, Diberi Makanan Kucing hingga Disuruh Makan Pasir