Di sisi lain, Rocky juga menyoroti tarik-menarik antara nilai religius dan godaan pragmatisme. Menurutnya, basis nilai religiusitas yang seharusnya menjadi fondasi justru sering kali tergerus oleh praktik-praktik pragmatis, bahkan urusan bisnis.
“Organisasi yang didirikan dengan basis nilai yang kuat itu, akhirnya terseret, harus terlibat karena panggilan suasana atau panggilan situasi yang bersejarah itu dalam politik dan terakhir soal-soal bisnis,” paparnya.
Ia menutup dengan nada reflektif, “Jadi oke kita tunggu bagaimana evolusi dalam NU antara pikiran-pikiran akomodasionistik dan pikiran-pikiran pragmatik.”
Prahara di tubuh NU ini, jika diamati, memang bukan hal baru. Tapi kali ini terasa lebih dalam. Tarik ulur antara idealisme dan realitas politik kembali mengemuka, meninggalkan tanda tanya besar tentang arah organisasi ke depannya.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir