Garansi Allah untuk Nol Keracunan Makanan Sekolah, BGN Dikritik

- Sabtu, 10 Januari 2026 | 11:25 WIB
Garansi Allah untuk Nol Keracunan Makanan Sekolah, BGN Dikritik

Target nol keracunan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tahun 2026 tiba-tiba jadi buah bibir. Bukan cuma ambisinya yang disorot, tapi juga satu kalimat yang bikin banyak orang mengernyit: soal "garansi Allah".

Pernyataan itu meluncur dari Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang. Saat itu dia lagi jelasin komitmen mereka buat tekan kasus keracunan sampai nol di tahun depan.

“Kalau menggaransi itu Allah yang garansi ya, tapi kita akan berusaha bekerja keras untuk meminimalisir,”

Ucapannya, yang dikutip dari konferensi pers Kamis lalu, langsung nyebar. Media sosial pun riuh. Intinya, banyak yang bertanya-tanya. Jaminan keamanan makanan untuk jutaan anak ini, apa cukup cuma disandarkan pada ikhtiar dan doa? Atau justru harus ditopang sistem pengawasan yang super ketat dan jelas ukurannya.

Target Nol, Tapi Jejaknya Panjang

Sebenarnya, target nol ini punya latar yang berat. Sepanjang 2025, program MBG memang dihantui berita keracunan di sana-sini. Data dari berbagai pemberitaan mencatat, ribuan siswa pernah mengalami masalah kesehatan. Ratusan lainnya bahkan harus dilarikan ke rumah sakit.

Jadi, wajar kalau target ‘nol kasus’ di 2026 terdengar sangat berani. Banyak yang menilai ini pertaruhan besar. Apalagi skalanya masif, menjangkau jutaan penerima setiap harinya.

Klaim Perbaikan dan Sorotan yang Tak Kunjung Reda

Di sisi lain, pemerintah dan BGN sendiri bilang sudah banyak perbaikan. Evaluasi dilakukan. Pengawasan di dapur penyedia makanan ditegaskan lebih ketat. SOP diperjelas. Kemenkes bahkan melaporkan ada tren penurunan kasus menuju akhir 2025. Itu yang jadi landasan optimisme mereka.

Tapi, ya itu tadi. Pernyataan bernuansa religius itu malah memantik tafsir yang macem-macem. Seolah tanggung jawab teknis dialihkan ke ranah keyakinan. Reaksi masyarakat pun terbelah. Ada yang anggap itu bentuk kerendahan hati, pengakuan bahwa manusia punya batas. Tapi tak sedikit yang merasa kalimat itu kurang pas, bahkan riskan, dalam konteks kebijakan publik yang menyangkut nyawa anak-anak.

Isunya makin melebar setelah diangkat media-media nasional.

Terlepas dari segala kontroversi, BGN berkeras mereka tidak bermaksud lepas tangan. Nanik menegaskan, lembaganya tetap punya tanggung jawab penuh untuk melakukan pengawasan dan perbaikan terus-menerus.

Sekarang, publik cuma bisa menunggu. Akankah target nol keracunan MBG 2026 benar-benar terwujud lewat kerja nyata? Atau justru jadi janji yang sulit ditepati? Satu hal yang jelas: pernyataan itu sudah menempatkan BGN di bawah sorotan yang sangat tajam. Bukan cuma soal angka, tapi juga tentang cara negara menyampaikan komitmennya untuk keselamatan pangan generasi muda.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini