Guntur Romli Bongkar Motif di Balik Vokalnya Ahmad Ali

- Senin, 24 November 2025 | 16:25 WIB
Guntur Romli Bongkar Motif di Balik Vokalnya Ahmad Ali

Politikus PDIP, Mohammad Guntur Romli, baru-baru ini menyoroti rekam jejak hukum Ahmad Ali, sang Ketua Harian PSI. Sorotan ini tak lepas dari penggeledahan rumah pribadi Ali oleh KPK pada awal Februari lalu. Saat itu, penyidik menyita uang tunai miliaran rupiah, plus sejumlah tas dan jam tangan mewah.

Guntur bicara begitu sebagai respons terhadap sindiran Ahmad Ali yang menyindir soal "nenek-nenek" yang masih memimpin partai politik. Sindiran itu dianggapnya perlu dibalas dengan mengingatkan publik pada fakta yang ada.

Menurut informasi yang beredar, penggeledahan itu terkait dengan kasus gratifikasi dan pencucian uang yang menjerat mantan Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari. Barang-barang mewah dan uang dalam jumlah fantastis itu diduga punya kaitan dengan kasus tersebut.

Guntur punya pandangan sendiri tentang motif Ahmad Ali.

“Dengan situasi seperti itu, sangat mudah membaca kenapa hari ini ia menjadi pembela Jokowi paling vokal. Itu bukan soal loyalitas melainkan strategi bertahan hidup, mencari ruang yang terasa lebih aman secara politik,” ujar Guntur.

Di sisi lain, Guntur juga menyoroti perpindahan Ahmad Ali dari Partai NasDem ke PSI. Lompatan ini, dalam pandangannya, semakin mempertegas pola oportunisme. Setelah kalah di Pemilu 2024 dan pengaruhnya di NasDem memudar, Ali langsung mendapat posisi strategis di PSI.

“Publik pun tertawa kecil karena ini bukan lompatan ideologis. Ini lompatan oportunis,” selorohnya.

Ia lalu menambahkan, pernyataan Ahmad Ali yang kerap membela Jokowi justru memancing senyum miris. Bagi Guntur, kalimat-kalimat itu menunjukkan betapa Ali siap memutar balikkan logika dan "merangkak" ke mana pun demi menyelamatkan citranya sendiri.

Pada akhirnya, Guntur menyimpulkan bahwa semua sikap dan sindiran Ahmad Ali itu bukanlah bentuk keberanian. Sebaliknya, itu semua adalah ekspresi ketakutan.

“Suara keras Ahmad Ali bukanlah suara keberanian. Itu hanyalah gema ketakutan-ketakutan yang ditutupi dengan teriakan, dan diarahkan pada siapa saja yang dianggap mengganggu sandaran politik yang kini ia perlukan,” pungkasnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar