Kemlu Pastikan Pelajar RI di Iran Aman Meski Demonstrasi Bergulir

- Jumat, 16 Januari 2026 | 10:15 WIB
Kemlu Pastikan Pelajar RI di Iran Aman Meski Demonstrasi Bergulir

Kondisi Warga Negara Indonesia di Iran masih aman, begitu penegasan dari Kementerian Luar Negeri RI. Meskipun gelombang demonstrasi melanda negara tersebut, para WNI yang mayoritasnya adalah pelajar dilaporkan tak mengalami gangguan.

Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl, memberikan keterangan pers pada Jumat (16/1/2026).

"Dapat kami sampaikan bahwa sejauh ini dilaporkan KBRI Tehran mereka dalam kondisi aman, tidak terdampak oleh demonstrasi yang berlangsung," jelasnya.

Menurut Nabyl, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tehran terus menjaga komunikasi dengan warganya. Memang sempat ada kendala, lantaran pemerintah Iran memberlakukan pembatasan akses internet. Namun situasi itu sudah mulai membaik.

"Sejak 12 Januari telepon lokal telah diaktifkan kembali," ujarnya, menambahkan bahwa jalur komunikasi reguler kini sudah pulih.

Lalu bagaimana dengan rencana pemulangan? Untuk saat ini, Kemlu menilai langkah evakuasi belum diperlukan. Keputusan itu diambil setelah memantau situasi keamanan setempat yang dinilai masih bisa dikendalikan. Meski begitu, imbauan kewaspadaan tetap disuarakan.

"KBRI menghimbau WNI agar waspada dan menghubungi hotline apabila ada urgensi," tutur Nabyl.

Langkah ini agak berbeda dengan beberapa negara lain yang sudah bergerak lebih cepat. India, misalnya, secara resmi telah menyerukan warganya untuk segera keluar dari Iran. Mereka memperkirakan sekitar 10.000 warga India berada di sana, mulai dari pelajar hingga peziarah.

Lewat sebuah unggahan di media sosial, Kedubes India di Tehran menulis, "Warga negara India yang saat ini berada di Iran disarankan untuk meninggalkan Iran dengan alat transportasi yang tersedia."

Polandia juga mengeluarkan seruan serupa melalui kementerian luar negerinya.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik di kawasan tampaknya mencair sedikit. Menurut laporan Al Arabiya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru mendesak Presiden AS Donald Trump untuk menunda rencana serangan militer ke Iran. Informasi ini dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior AS kepada New York Times.

Bukan hanya Netanyahu. Upaya meredam eskalasi juga datang dari sejumlah negara Arab.

Seorang pejabat tinggi Arab Saudi mengungkapkan kepada AFP bahwa Saudi, Qatar, dan Oman aktif membujuk Washington. Kekhawatiran mereka jelas: serangan apa pun berpotensi menimbulkan dampak buruk yang serius dan meluas di seluruh kawasan Timur Tengah.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar