Lebih dari Sekadar Rasa Manis: Filosofi Tersembunyi di Balik Kue Keranjang Imlek

- Rabu, 28 Januari 2026 | 12:45 WIB
Lebih dari Sekadar Rasa Manis: Filosofi Tersembunyi di Balik Kue Keranjang Imlek

Bentuknya yang bulat juga bukan tanpa alasan. Bulat melambangkan keutuhan dan kesatuan. Bukan cuma dalam lingkup keluarga inti, tapi juga dengan tetangga dan masyarakat sekitar. Itu sebabnya, kue keranjang sering dibagi-bagikan saat Imlek sebagai simbol kebersamaan.

Namun begitu, kisah paling menarik justru datang dari sejarahnya yang gelap. Konon, tradisi ini sudah berusia 2.500 tahun. Ceritanya bermula dari masa kerajaan Wu, usai sang jenderal Wu Zixu meninggal. Kota itu dikepung musuh, rakyatnya kelaparan.

Dalam keputusasaan, seorang warga teringat pesan almarhum jenderal.

"Jika negara ini terjebak masalah dan rakyat kelaparan, pergilah dan galilah sedalam 3 kaki di bawah tembok kota. Kalian akan mendapatkan makanan di sana."

Mereka menggali. Dan betapa terkejutnya, fondasi tembok kota ternyata terbuat dari bata tepung ketan yang bisa dimakan! Bahan itulah yang menyelamatkan mereka dari kelaparan. Sejak saat itu, untuk mengenang jasa Wu Zixu, masyarakat membuat kue dari tepung ketan setiap tahun. Lambat laun, ia berevolusi jadi kue keranjang yang kita kenal sekarang, dan menjadi sajian wajib Imlek.

Jadi, kue keranjang itu lebih dari sekadar kue. Ia adalah simbol harapan, perekat hubungan, dan pengingat akan ketahanan di masa sulit. Selamat menyambut Imlek 2026 semoga tahun ini membawa kebaikan yang "lebih tinggi" untuk kita semua.


Halaman:

Komentar