Kejadian itu bermula di Inggris, ketika seorang anggota Paspampres berusaha mengusir wartawan yang sedang melipat. Hasilnya? Bukan wartawan yang pergi, tapi justru sang pengawal yang mendapat pelajaran hukum setempat. Sungguh situasi yang memalukan.
Dalam video yang beredar, terlihat jelas seorang wartawan lokal menegur dengan tegas.
"Ini tempat umum, anda tidak bisa usir orang,"
"Di Inggris, kami diperbolehkan untuk merekam video di tempat umum. Anda tidak bisa memindahkan kami. Anda sedang melanggar hukum,"
Suaranya tenang tapi penuh wibawa, membuat aksi sang pengawal terlihat janggal dan salah langkah. Tak butuh waktu lama, rekaman itu pun menyebar ke mana-mana, memicu gelombang komentar pedas dari netizen Indonesia.
Di platform X, reaksi warganet beragam. Ada yang langsung menyoroti sikap arogan yang dianggap biasa dilakukan di dalam negeri.
"Dia pikir di indonesia seenaknya ngusir orang. Belajar aturan di negara orang biar anda gak bikin malu indonesia,"
Begitu kicauan satu akun. Sementara yang lain lebih sinis.
"di indonesia lu petentang petenteng di luar negeri keliatan oon lu..,"
Namun begitu, ada juga yang mencoba melihat akar masalahnya. Seorang pengguna lain memberikan perspektif yang cukup dalam.
"Soalnya pers di sini mah ga dilindungi hukum, ada yg dibakar rumahnya sampai sekeluarga meninggal, di terror, dikirimin kepala babi, jadi culture shock ya di luar negeri pers dilindungi hukum dan gabisa tuh dimaki2 atau diusir2"
Komentar ini seperti menyentil sebuah realitas yang lebih pahit. Bisa jadi, insiden di Inggris ini bukan sekadar soal ketidaktahuan aturan, tapi lebih pada kebiasaan yang terbentuk di lingkungan di mana kekuasaan sering kali berbicara lebih lantang daripada hukum.
Video singkat itu akhirnya menjadi cermin. Di satu sisi, memperlihatkan betapa pentingnya memahami konteks hukum dan budaya lokal saat bertugas di luar negeri. Di sisi lain, ia juga memantulkan bayangan kelam tentang bagaimana relasi kuasa dan kebebasan pers sering kali berjalan di tanah air. Sebuah pelajaran mahal yang viral, untuk satu orang, dan mungkin untuk kita semua.
Artikel Terkait
774 Pelanggaran Disiplin Terjadi di Kemenimipas, Bolos Kerja Mendominasi hingga 42 Pegawai Dipecat
Mentan Amran: Capaian Pangan Nasional Tak Lepas dari Peran TNI, Stok Beras Capai Rekor 5,12 Juta Ton
KPK Soroti 27.969 Bidang Tanah di Sulsel Belum Bersertifikat, Rawan Konflik dan Korupsi
Warkop Dg Anas: Meja Kopi Sederhana yang Menjadi Titik Temu Para Legenda Makassar