Di awal tahun 2026, jagat politik kembali diramaikan oleh satu wacana yang tak pernah benar-benar padam: reshuffle kabinet. Isu ini muncul lagi, dan respons publik pun ramai seperti biasa. Menariknya, pengamat politik Adi Prayitno justru menyoroti kesan mendadak dari perbincangan ini. Padahal, selama ini narasi yang beredar adalah para menteri bekerja tanpa henti, siang dan malam.
“Kenapa terkesan mendadak dan kenapa kemudian terkesan ujug-ujug muncul soal wacana reshuffle yang benaran ini memang cukup ramai dipergunjingkan oleh publik,”
ujar Adi Prayitno dalam sebuah tayangan di YouTube, Selasa lalu.
Dia mengakui, rakyat biasa seperti kita memang sering berada dalam kondisi “gelap gulita” soal dinamika di lingkaran kekuasaan. Akses untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di istana tentu bukan hal yang mudah.
Meski terasa tiba-tiba, Adi mengingatkan bahwa reshuffle sebenarnya sudah jadi menu biasa di pemerintahan saat ini. Coba lihat saja tahun 2025 lalu. Dalam setahun saja, sudah empat kali terjadi pergantian menteri. Alasannya beragam, mulai dari politik sampai soal kinerja yang dinilai kurang.
“Awal Januari, kemudian November, dan di Desember itu ada sejumlah menteri yang kemudian diganti. Alasannya banyak, alasan politik, alasan kinerja, dan seterusnya,”
paparnya lebih lanjut.
Lalu, apa yang memicu isu kali ini? Adi melihat setidaknya ada dua indikasi. Pertama, ada kunjungan salah seorang menteri ke Solo dan Kertanegara yang langsung ditafsirkan banyak orang sebagai pertanda bakal ada perombakan. Kedua, tentu saja adalah kritik keras terhadap penanganan bencana alam di Sumatera. Respons yang dianggap lambat, ditambah kasus kayu gelondongan ilegal yang belum juga terungkap, membuat publik geram.
“Publik berharap ini kemudian transparan diekspos kira-kira siapa yang kemudian bertanggung jawab. Jadi menteri-menteri terkait dengan mengungkap persoalan ini juga akan mendapatkan sorotan dari publik,”
Artikel Terkait
Pedagang Kecil Dianiaya, Kata-kata Aparat yang Bikin Miris: Makan Habisin, Biar Kamu yang Modar
Kajari Sleman Minta Maaf, Kasus Hogi Dihentikan Paksa Komisi III
Indonesia Masuk Dewan Perdamaian Gaza: Celah Diplomasi atau Hanya Ruang Kosong?
Somaliland: Kisah Negara yang Ada, Meski Tak Diakui Dunia