Lembah Suhita Ramai-Ramai Tanam Kaliandra, 350 Relawan Serukan Kolaborasi Lingkungan

- Senin, 24 November 2025 | 13:48 WIB
Lembah Suhita Ramai-Ramai Tanam Kaliandra, 350 Relawan Serukan Kolaborasi Lingkungan

Lampung Geh, Bandar Lampung Kolaborasi lintas komunitas kembali terwujud dalam Gerakan Seribu Pohon 5.0. Kali ini, Lembah Suhita menjadi tuan rumah yang menyatukan ratusan tangan untuk memperkuat kesadaran ekologis masyarakat.

Rangkaian acara berlangsung selama dua hari penuh, 15–16 November 2025. Menurut Rizkia Meutia Putri, Founder Seribu Pohon, kegiatan tahunan ini memang dirancang sebagai wadah yang menyatukan edukasi, aksi lingkungan, dan penguatan peran masyarakat dalam menjaga alam.

"Gerakan ini tidak hanya tentang menanam pohon, tetapi tentang membangun hubungan yang lebih dekat dengan alam melalui kolaborasi," ujarnya.

Yang menarik, partisipasinya sangat luas. Mulai dari Bank Indonesia, PT Bukit Asam, berbagai UMKM, komunitas, hingga lembaga pemerintahan turut serta. Bahkan total pesertanya mencapai lebih dari 350 orang angka yang cukup signifikan untuk gerakan lingkungan lokal.

Hari pertama dibuka dengan sesuatu yang penuh makna: Tari Remo oleh Komunitas Anak Sawah. Tarian ini menjadi simbol penghormatan terhadap alam dan budaya lokal yang masih lestari.

Kemudian suasana hening menyelimuti ritual tari kesenian tanpa musik. Hanya suara alam yang terdengar, mengiringi doa pembuka dan harapan untuk keberkahan kegiatan.

Aksi penanaman pohon Kaliandra pun segera dimulai di sepanjang area sungai. Pohon ini bukan pilihan sembarangan. Selain menjaga kualitas air dan mencegah erosi, Kaliandra juga menjadi pakan lebah yang mendukung ekosistem perlebahan di Lembah Suhita.

Tak hanya menanam, panitia juga membagikan 1.650 bibit produktif kepada masyarakat sekitar. Bibit pala, alpukat, duren, dan aren dibagikan dengan harapan bisa mendukung penghijauan berkelanjutan sekaligus ketahanan pangan dan ekonomi lokal.

Peserta juga diajak melihat langsung proses panen lebah madu salah satu atraksi unggulan di Lembah Suhita. Sebelum hari pertama berakhir, mereka merasakan pengalaman barefoot walk, berjalan tanpa alas kaki untuk merasakan kedekatan langsung dengan bumi.

Yang tak kalah penting, seluruh konsumsi kegiatan disiapkan oleh masyarakat setempat. Hidangan tradisional seperti sumpil hadir di meja makan, menunjukkan dukungan pada kearifan lokal dan pemberdayaan ekonomi warga.

Hari kedua lebih berfokus pada kegiatan grounding dan workshop edukatif. Kahut Sigerbori memandu Workshop Ecoprint for Kids, sementara pelaku UMKM Ternatea produsen kombucha asal Lampung membagikan ilmunya dalam pelatihan pembuatan kombucha.

Rizkia Meutia menegaskan bahwa Gerakan Seribu Pohon 5.0 membuktikan sinergi masyarakat, komunitas, lembaga pemerintah, dan pelajar bisa menciptakan dampak ekologis yang nyata.

"Kolaborasi adalah kunci. Ketika banyak pihak terlibat, gerakan lingkungan tidak hanya menjadi kampanye, tetapi menjadi budaya," kata Rizkia.

Harapannya jelas: kegiatan seperti ini terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak pihak. Gerakan Seribu Pohon 5.0 di Lembah Suhita diharapkan menjadi langkah berkelanjutan menuju ruang hidup yang lebih hijau, sehat, dan harmonis untuk generasi mendatang. (Cha/Lua)

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar