Linggis Mana Linggis!: Teriakan Gubernur di Tengah Reruntuhan Longsor Cisarua

- Selasa, 27 Januari 2026 | 12:00 WIB
Linggis Mana Linggis!: Teriakan Gubernur di Tengah Reruntuhan Longsor Cisarua
Laporan dari Lokasi Longsor

Di Tengah Reruntuhan, Teriakan Minta Linggis

Suasana genting di lokasi longsor Cisarua mendadak terselip sorotan lain. Aksi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang berteriak-teriak meminta linggis kepada petugas, terekam dan ramai diperbincangkan.

Bencana itu sendiri terjadi Sabtu lalu, 24 Januari 2026, di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Cuaca buruk kala itu sungguh mempersulit upaya evakuasi. Tapi begitu mendengar kabar musibah di daerahnya, Dedi Mulyadi langsung terjun ke lokasi.

Menurut sejumlah saksi, situasi di lapangan memang rumit. Dedi sendiri sempat kesulitan saat mencoba menolong korban. Rupanya, dia menemukan seorang korban yang terjepit keras antara batu besar dan pohon tumbang. Ada pula yang masih terbelit kasur dan selimut, lalu tertimbun material longsor.

Nah, di titik itulah, suaranya terdengar memecah keriuhan.

"Linggis mana linggis!"

Teriakannya itu, diucapkan berulang kali kepada para petugas. Tantangan di depan mata nyata adanya. Proses penyelamatan jelas tidak mudah.

"Ada korban yang sedang tidur, tergulung kasur dan selimut, kemudian tertimpa batu dan pohon. Itu yang membuat proses evakuasi menjadi sulit,"

Demikian penjelasan Dedi Mulyadi seusai kejadian. Meski begitu, dia dan seluruh tim evakuasi terus berupaya maksimal. Usaha tak kenal lelah itu akhirnya membuahkan hasil. Setelah beberapa kali meminta, Sekretaris Daerah Jabar Herman Suryatman berhasil menyerahkan linggis yang diminta.

Namun begitu, kendala lain muncul. Akses menuju titik kejadian sempat dipadati warga yang ingin melihat sang gubernur. Hal ini sempat menghambat mobilitas tim.

Di sisi lain, tak lama setelah insiden teriakan linggis itu, suara lain terdengar memilukan dari kerumunan warga.

"Ini ada satu, tolong, tolong!"
"Ada dua korban!"

Begitu teriakan itu terdengar, petugas gabungan segera bergerak cepat. Mereka mengevakuasi korban yang terjepit, menariknya ke area aman, lalu segera membawanya ke ambulans untuk identifikasi lebih lanjut.

Hari itu, di antara lumpur dan batu, drama kemanusiaan berlangsung dengan segala caranya. Penuh teriakan, usaha, dan harapan.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler