Longsor Cisarua: Gubernur Soroti Eksploitasi Alam sebagai Pemicu Bencana

- Senin, 26 Januari 2026 | 18:45 WIB
Longsor Cisarua: Gubernur Soroti Eksploitasi Alam sebagai Pemicu Bencana
Longsor Cisarua dan Peringatan Keras dari Gubernur

Peringatan Menohok Usai Longsor Cisarua: Eksploitasi Alam dan Panggilan untuk Introspeksi

Duka masih menyelimuti Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat. Peringatan keras justru datang dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang menyoroti ulah manusia sebagai pemicu bencana.

Kejadiannya di Sabtu dini hari yang kelam itu, tanggal 24 Januari 2026. Tanah dari bukit di Kampung Pasir Kuning tiba-tiba ambrol. Begitu cepat dan ganas, setidaknya 30 rumah terkubur dalam sekejap. Suasana yang semestinya tenang berubah jadi mimpi buruk.

Hingga berita ini ditulis, tim SAR sudah bekerja keras. Mereka berhasil mengevakuasi 25 jenazah. Kabar yang sedikit meredakan hati, 17 di antaranya telah dikembalikan ke pelukan keluarga. Namun, delapan lainnya masih menunggu proses identifikasi sebuah tugas yang berat di tengah kepedihan yang mendalam.

Di tengah situasi itu, Gubernur Dedi Mulyadi angkat bicara. Lewat akun Instagram pribadinya, @dedimulyadi71, pada Minggu (25/1), ia menyampaikan pernyataan yang tak cuma berisi belasungkawa, tapi juga kritik pedas. Intinya satu: alam sudah terlalu lama dieksploitasi.

"Longsor yang dialami oleh saudara kita di Bandung Barat menjadi catatan penting," ujarnya. "Bencana bisa menimpa siapa saja tanpa orang tersebut melakukan perbuatan yang mengakibatkan bencana."

Kalimatnya berlanjut, lebih tegas. "Itu fakta bahwa kita sudah berbuat salah terhadap areal-areal perbukitan. Kita sudah abai terhadap alam semesta."

[Foto: Gubernur Dedi Mulyadi menyampaikan pernyataan]

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Dok. Pribadi)

Menurut Dedi, manusia kerap lupa diri. Kita hanya numpang tinggal di bumi, tapi berlaku seperti pemilik yang seenaknya. Eksploitasi dilakukan tanpa memedulikan harmoni dan keselamatan jangka panjang. Ia secara khusus menyoroti maraknya alih fungsi lahan, dari sawah dan bukit hijau berubah jadi deretan perumahan.

Nah, di titik inilah ia mengajak semua pihak untuk berhenti sejenak dan melihat ke dalam. Pemerintah, terutama, diminta introspeksi soal kebijakan tata ruang yang mungkin terlalu longgar. Apakah izin-izin yang diberikan sudah benar-benar mempertimbangkan daya dukung alam?

"Sudah saatnya kita berintrospeksi diri," tegas Dedi. "Untuk merubah seluruh perilaku buruk yang menjadikan alam menjadi bahan eksploitasi kita tanpa mempertimbangkan keharmonian hidup."

"Masyarakat pun harus menyadari bahwa tindakan-tindakan yang bertentangan dengan alam pada akhirnya akan menjadi bencana dan menimpa siapapun tanpa melihat latar belakang kehidupannya," tambahnya.

Di akhir pernyataannya, ia kembali menyampaikan duka yang mendalam untuk korban longsor di Cisarua dan daerah lain di Jawa Barat. Harapannya sederhana tapi berat: "Semoga kita menjadi manusia yang tersadarkan."

[Foto: Kondisi lokasi longsor di Cisarua]

Lokasi terdampak longsor di Kampung Pasir Kuning, Cisarua.

Pernyataan sang gubernur ini langsung mendapat sorotan. Di kolom komentar, banyak warganet yang menyampaikan dukungan dan doa.

Beberapa tanggapan warganet:

"Semoga di beri ketabahan dan kesabaran," tulis seorang netizen.

"Semoga para pejabat lain bisa mendengar apa yg disampaikan wa nded," komentar yang lain, berharap pesan ini sampai ke telinga yang lebih luas.

Ada pula yang merenung, "Introspeksi diri alam di rusak, karna manusianya sudah rusak ahlaknya, maka alam pun memurnikan dan meleburkan itu semua."

Bencana di Cisarua memang meninggalkan luka. Tapi di balik reruntuhan tanah dan duka, ada peringatan yang terasa lebih keras dari gemuruh longsor: bahwa sikap kita terhadap alam menentukan nasib kita sendiri. Momentum untuk berbenah, kata Dedi, tak bisa ditunda lagi.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar