Pascabencana, Warga Aceh Masih Terpaksa Gunakan Rakit untuk Aktivitas Sehari-hari

- Kamis, 15 Januari 2026 | 23:45 WIB
Pascabencana, Warga Aceh Masih Terpaksa Gunakan Rakit untuk Aktivitas Sehari-hari

Kondisi pascabencana di Aceh ternyata masih jauh dari kata pulih. Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, baru-baru ini mengungkap fakta yang cukup memprihatinkan. Banyak jembatan penghubung antar desa dan kecamatan hingga kini masih dalam keadaan rusak, menyulitkan mobilitas warga.

Hal itu ia sampaikan dalam sebuah rapat koordinasi satgas di Jakarta, Kamis lalu. Menurutnya, perbaikan jalan nasional memang sudah menunjukkan kemajuan, mencapai sekitar 60 persen. Namun begitu, nasib infrastruktur di tingkat lokal sepertinya belum banyak tersentuh.

"Yang sudah dibenahi saat ini kan jembatan di jalan nasional. Tapi jembatan-jembatan di tingkat kecamatan, yang menghubungkan satu desa dengan desa lain, itu masih belum," ujar Mualem.

Dampaknya terasa sangat nyata, terutama di wilayah seperti Aceh Timur dan Aceh Utara. Di sana, kehidupan sehari-hari warga berubah drastis. Untuk sekadar menyeberangi sungai atau mencapai daerah seberang, mereka terpaksa memakai rakit. Aktivitas rutin seperti pergi ke sekolah atau ke pasar pun harus dilakukan dengan cara yang tidak biasa ini.

"Masih ada yang pakai rakit, Pak. Bahkan anak-anak sekolah naik rakit. Untuk ke sekolah, untuk ke mana-mana, semuanya pakai rakit," jelasnya dengan nada prihatin.

Persoalan tak berhenti di situ. Mualem juga melaporkan kerusakan parah pada sektor pertanian. Sekitar 50 ribu hektar sawah di Aceh masih tertimbun lumpur sisa bencana. Bayangkan saja, lahan seluas itu tak bisa ditanami. Kalau dibiarkan, ancamannya jelas: angka kemiskinan dan pengangguran bakal melonjak.

"Kalau ini tidak kita benahi, sudah pasti angka pencaharian warga akan turun. Kemiskinan bisa bertambah," katanya menegaskan.

Di sisi lain, Mualem turut menyoroti masalah di sektor kelautan. Dalam pertemuan itu, ia secara khusus meminta perhatian Kementerian Kelautan dan Perikanan. Persoalan sedimentasi atau pendangkalan di muara dan kuala, katanya, sangat mengganggu. Padahal, seperempat penduduk Aceh menggantungkan hidupnya dari laut.

"Saya ingin sampaikan ke Bapak Menteri KKP, persoalan sedimentasi ini serius. Sama seperti yang terjadi di Sumut dan Sumbar. Aktivitas nelayan kita jadi sangat terganggu," pungkas Mualem.

Laporan dari lapangan ini menggambarkan sebuah pemulihan yang berjalan tertatih. Pasca air surut dan tanah longsor berhenti, ternyata perjuangan warga Aceh untuk kembali beraktivitas normal masih panjang.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar