Iran Buka Akses Penuh Selat Hormuz Selama Gencatan Senjata Lebanon Berlangsung

- Jumat, 17 April 2026 | 21:15 WIB
Iran Buka Akses Penuh Selat Hormuz Selama Gencatan Senjata Lebanon Berlangsung

DUBAI Setelah beberapa hari tegang, pemerintah Iran akhirnya memutuskan untuk membuka akses penuh Selat Hormuz bagi semua kapal niaga. Kebijakan ini berlaku selama masa gencatan senjata di Lebanon masih berjalan. Menurut Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, langkah ini diambil sebagai bagian dari komitmen mereka terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di platform X pada Jumat (17/4/2026), Araqchi menegaskan posisi Tehran.

"Lintasan bagi seluruh kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa periode gencatan senjata," ujarnya.

Meski begitu, dia mengingatkan bahwa pelayaran tetap harus mengikuti rute yang sudah ditetapkan oleh otoritas pelabuhan setempat. Pengaturan jalur ini, kata Araqchi, penting untuk menjaga keamanan dan kelancaran arus lalu lintas di jalur laut yang super sibuk itu.

Keputusan ini cukup mengejutkan. Sebelumnya, situasinya justru panas. Iran sempat mengancam akan membalas blokade Amerika Serikat dengan menutup Laut Merah dan jalur-jalur penting lainnya di kawasan. Ancaman itu disampaikan langsung oleh Mayor Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, seorang perwira di markas besar militer tertinggi Iran, Khatam Al Anbiya.

Di televisi nasional, Aliabadi bersikap keras. Dia memperingatkan bahwa militernya siap menutup lalu lintas di Laut Merah dan perairan kunci lainnya jika blokade AS terhadap pelabuhan Iran tidak dihentikan.

"(Jika blokade AS berlanjut) akan menciptakan ketidakamanan bagi kapal-kapal dagang dan tanker minyak Iran. Ini bisa menjadi tindakan 'pendahuluan' yang melanggar gencatan senjata," tegas Aliabadi, seperti dilaporkan Middle East Eye.

Dia bahkan menegaskan, angkatan bersenjata Iran tidak akan membiarkan aktivitas ekspor-impor berjalan lancar di Teluk Persia, Laut Oman, hingga Laut Merah.

Menanggapi ancaman itu, Gedung Putih punya jawaban sendiri. Juru Bicara Karoline Leavitt menyebut ancaman Tehran sebagai bentuk keputusasaan. Dia mengatakan Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan tim negosiasi sudah menyampaikan batasan-batasan AS dengan jelas.

"Keputusasaan Iran untuk mencapai kesepakatan hanya akan meningkat dengan pemblokadean oleh angkatan laut Presiden Trump yang sangat efektif. Blokade ini mengirim kapal tanker minyak menuju Teluk Amerika yang besar dan indah," kata Leavitt.

Klaim dari kedua pihak pun saling bersilangan. Pusat Komando AS (Centcom) mengklaim bahwa dalam 48 jam pertama blokade, tidak satu pun kapal yang berhasil menerobos armada mereka. Klaim ini, tentu saja, bertolak belakang dengan banyak laporan media yang menyebut puluhan kapal termasuk tanker milik China tetap melintas dengan leluasa di selat tersebut. Situasinya memang masih simpang siur.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar