Dedi Mulyadi Bantah Rumah Panggung Bantuan Ikut Tenggelam: Itu Cuma Ilusi Kamera

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 21:30 WIB
Dedi Mulyadi Bantah Rumah Panggung Bantuan Ikut Tenggelam: Itu Cuma Ilusi Kamera

Video itu beredar cepat di media sosial, memantik gelombang komentar pedas. Tampak pemukiman warga terendam banjir, airnya nyaris menyentuh atap-atap rumah. Yang jadi sorotan? Sebuah rumah panggung bantuan Pemprov Jabar yang juga ikut tergenang. Padahal, rumah jenis ini kerap dianggap solusi aman saat banjir melanda.

Banjirnya sendiri disebut-sebut mencapai ketinggian tiga meter. Tak heran, netizen langsung menyoroti klaim sebelumnya soal keamanan lantai atas rumah panggung tersebut. Kenyataannya, air ternyata tak pandang bulu.

Menanggapi riuhnya perbincangan ini, Dedi Mulyadi angkat bicara. Mantan Gubernur Jawa Barat itu justru menilai rumah bantuan itu masih layak huni. Ia meminta publik mencermati lebih detail video yang viral itu.

"Silakan lihat videonya. Di sampingnya itu rumah yang saya bangun, itu masih bisa ditinggali," kata Dedi.

Menurut penjelasannya, kesan tenggelam itu muncul akibat sudut pengambilan gambar. Kamera seolah menangkap rumah itu terendam, padahal rumah di sebelahnya yang jadi penyebab ilusi tersebut.

"Rumah-rumah yang terlihat tenggelam itu karena anglenya (sudut pandang) rumah di samping rumah panggung yang saya bangun," bebernya, Sabtu (24/1/2026).

Dedi bersikukuh bahwa rumah-rumah panggung itu sudah dirancang dengan ketinggian khusus. Tujuannya jelas: menghindari genangan. Dari pengamatannya, sampai saat ini rumah-rumah tersebut masih berfungsi dengan baik.

"Rumah panggung yang dibangun itu memang ukurannya tinggi, sehingga masih bisa ditinggali meskipun banjir," imbuhnya.

Ia bahkan berseloroh, menyebut video di media sosial kerap tak menampilkan cerita yang utuh. Hanya potongan.

Di sisi lain, persoalan ini sebenarnya punya latar yang lebih panjang. Jauh sebelum video viral, Dedi mengaku sudah menawarkan solusi relokasi kepada warga di kawasan rawan. Sayang, tawaran itu tidak sepenuhnya diterima.

"Saya sudah menawarkan relokasi sejak saya dilantik jadi gubernur, tapi mereka tidak mau," ujarnya.

Upayanya tak berhenti di situ. Dedi juga pernah meminta data lengkap rumah di zona banjir kepada kepala desa setempat. Namun, permintaan itu tak kunjung dipenuhi.

"Saya sempat minta data semua rumah yang berada di daerah sana yang rawan banjir. Tapi kades tidak memberikan semuanya," tandas Dedi Mulyadi.

Jadi, masalahnya ternyata tak sesederhana rumah yang kebanjiran. Ada dinamika lain di baliknya, dari penolakan relokasi hingga data yang tak kunjung jelas. Semuanya berujung pada satu video yang ramai diperdebatkan itu.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar