Sabtu lalu, 17 Januari 2026, langit di atas Sulawesi Selatan berubah menjadi latar sebuah tragedi. Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport jatuh di kawasan terjal Gunung Bulusaraung. Kecelakaan itu langsung menyita perhatian nasional.
Pesawat itu mengangkut sepuluh orang. Tujuh kru dan tiga penumpang. Hingga Senin sore, tim SAR yang berjuang di medan berat baru menemukan dua korban. Kondisinya sudah tak bernyawa. Salah satunya ditemukan di jurang yang kedalamannya mencapai setengah kilometer.
Di tengah suasana duka dan pencarian yang alot, muncul secercah harapan dari sebuah benda kecil. Jejak Farhan Gunawan, sang co-pilot, ditemukan oleh pacarnya, Dian, melalui teknologi yang mereka gunakan sehari-hari.
Kakak Dian, yang mewakili adiknya yang sedang syok, menjelaskan kronologinya dengan suara bergetar.
"Adik saya pacaran sama Farhan sudah lima tahun. Dia tidak sanggup bicara ke media sekarang. Fokusnya cuma mencari Farhan," ujarnya.
Menurut penuturannya, pada tanggal 18, sehari setelah kecelakaan, ponsel Farhan berhasil ditemukan di tengah hutan. Ponsel itu langsung dipegang oleh Dian.
Nah, di sinilah hal menarik terungkap. Ternyata, ponsel tersebut masih terhubung dengan smartwatch yang dikenakan Farhan. Saat dicek, data di jam pintar itu menunjukkan adanya pergerakan langkah kaki.
"Bukan cuma sekali. Ada beberapa kali pergerakan di jam-jam tertentu," jelas sang kakak.
"Dari pagi jam enam ada, terus jam sepuluh, sampai malam juga tercatat. Saya agak lupa detail jamnya."
Yang memberi harapan, pergerakan itu terdeteksi terus selama tiga hari terakhir. Malah, jumlah langkahnya disebut semakin bertambah. "Ini hari ketiga dia di hutan," tambahnya.
Dengan temuan ini, keluarga pun mendesak. Mereka meminta agar operasi SAR diperkuat.
"Kami mohon kepada Bapak Prabowo atau menteri terkait, tolong kirim lebih banyak personel dan helikopter. Cepat," pinta kakak Dian.
Sementara itu, profil Farhan pun mulai banyak dibicarakan. Dia adalah alumni Sekolah Islam Athirah Makassar, seorang pemuda aktif dan berprestasi. Farhan pernah menjadi Ketua OSIS di masa SMP dan SMA-nya. Setelah lulus, dia mengejar cita-citanya di dunia penerbangan dengan masuk Akademi Penerbangan Indonesia dan lulus sebagai taruna.
Operasi pencarian di wilayah perbatasan Maros dan Pangkep masih terus digenjot. Medannya sulit, hutannya lebat. Namun, kisah tentang smartwatch yang masih mencatat langkah itu setidaknya memberi energi baru. Sebuah harapan kecil bahwa Farhan, co-pilot yang dikenal gigih itu, masih bertahan di balik pepohonan Gunung Bulusaraung.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor