Analis Mirae Asset Soroti Peluang IHSG di Kuartal II 2026, Fokus pada Dividen dan Saham Undervalued

- Rabu, 22 April 2026 | 07:30 WIB
Analis Mirae Asset Soroti Peluang IHSG di Kuartal II 2026, Fokus pada Dividen dan Saham Undervalued

Pasar saham kita mungkin akan dapat angin segar di kuartal kedua tahun 2026 nanti. Kombinasi faktor dalam negeri dan global dinilai bisa mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak ke wilayah positif. Laporan terbaru dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia yang dirilis 21 April 2026 menyoroti peluang ini.

Secara historis, periode April hingga Juli seringkali menjadi fase penguatan bagi pasar modal Indonesia. Salah satu katalisnya? Musim dividen. Banyak emiten besar, terutama dari sektor perbankan dan energi, mulai membagikan laba ke investor.

“Aliran dana dividen ini biasanya akan diinvestasikan kembali ke pasar sehingga mampu menjaga likuiditas,” tulis M. Nafan Aji Gusta Utama, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia.

Ia dan timnya juga menyoroti sejumlah saham dengan imbal hasil dividen yang menarik. Misalnya, saham pertambangan seperti ITMG dan PTBA diperkirakan menawarkan yield hingga dua digit. Sementara itu, saham perbankan daerah macam BJTM dan BJBR dinilai stabil dengan imbal hasil sekitar 7-8 persen. Tak ketinggalan, big caps seperti ADRO, ASII, dan UNTR tetap menawarkan yield kompetitif di tengah dinamika bisnis mereka.

Namun begitu, dividen bukan satu-satunya pendorong. Rilis kinerja emiten untuk kuartal I-2026 akan menjadi penentu arah berikutnya. Jika laba bisa tumbuh dua digit meski suku bunga masih tinggi, hal ini bisa memicu koreksi valuasi ke arah yang lebih optimistis.

Nafan juga menggarisbawahi peluang dari sisi valuasi. Menurutnya, masih banyak saham yang harganya terlihat menarik, entah itu kategori undervalued, deep value, atau asset play. Saham seperti ADRO, INDF, dan PGAS masuk dalam radar undervalued. Untuk kategori deep value, ada AUTO, BBTN, dan BSDE.

“Kembali melirik saham yang secara fundamental murah namun memiliki prospek pertumbuhan (undervalued),” kata Nafan menekankan pendekatan value investing.

Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya strategi diversifikasi. Jangan menumpuk semua dana di satu sektor saja. Cobalah mengombinasikan saham defensif seperti perbankan dan konsumsi non-siklikal dengan saham berbasis pertumbuhan di sektor seperti pertambangan.

Soal timing, Nafan menyarankan kehati-hatian. Dalam kondisi IHSG yang masih berfluktuasi, pendekatan pembelian bertahap dinilai lebih bijak ketimbang langsung menghabiskan semua modal.

“Kita tidak pernah tahu di mana posisi ‘bottom’ sebenarnya sampai ia sudah lewat,” ujarnya.

Faktor eksternal juga perlu diawasi. Keberlanjutan status Indonesia sebagai emerging market di mata MSCI, serta konsistensi reformasi pasar modal, dinilai akan berpengaruh signifikan terhadap aliran dana global. Dari dalam negeri, proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang berpotensi melampaui 5,39% juga jadi sentimen positif.

Tapi tentu, risiko selalu ada. Ketegangan geopolitik, terutama terkait AS-Iran dan Selat Hormuz, bisa memicu lonjakan harga minyak dan tekanan inflasi. Pertumbuhan ekonomi yang ternyata di bawah ekspektasi juga berpotensi membalikkan sentimen. Belum lagi volatilitas rupiah di kisaran Rp17.000 per dolar AS yang membuat investor asing bersikap defensif.

Kebijakan BEI terkait kepemilikan saham terkonsentrasi (HSC) juga berpotensi memicu gejolak jangka pendek pada saham-saham konglomerasi besar.

Dalam skenario pergerakan, IHSG diperkirakan bisa menguji level 8.046 hingga 8.312, dengan area support di 6.744. Secara sektoral, energi, industri, dan saham siklikal saat ini memimpin. Sektor keuangan dan non-siklikal masih dominan meski mulai menunjukkan kelelahan.

Singkatnya, strateginya adalah fokus pada saham dividen tinggi, berburu saham undervalued, dan diversifikasi. Lakukan akumulasi secara bertahap. Komoditas dan saham konglomerasi masih akan menjadi motor penggerak indeks.

Tapi, Nafan mengingatkan untuk tetap waspada pada sektor perbankan. Meski murah secara valuasi, sektor ini masih mencatatkan jual bersih asing dan menghadapi risiko dari program 3 juta rumah yang berpotensi meningkatkan beban jika kredit macet melonjak.

Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar