TNI Gelar Latihan Perang Gabungan di Karimunjawa, Menhan Tegaskan Efek Gentar bagi Pengusik Kedaulatan

- Jumat, 24 April 2026 | 21:15 WIB
TNI Gelar Latihan Perang Gabungan di Karimunjawa, Menhan Tegaskan Efek Gentar bagi Pengusik Kedaulatan

Memasuki era perang modern, TNI menggelar latihan besar-besaran. Namanya Latihan Operasi Laut Gabungan, atau Latopslagab. Lokasinya di Perairan Karimunjawa, Kamis (23/4) lalu. Ini bukan sekadar rutinitas tahunan biasa.

Bayangkan, dua puluh kapal perang Republik Indonesia (KRI) bergerak serempak. Jet tempur F-16 milik TNI AU melesat di atas mereka. Semua menyatu dalam satu skenario tempur. Sasaran pun dilumpuhkan. Ada rudal Exocet MM40 Block 3 yang ditembakkan. Juga bom presisi MK-12 yang dijatuhkan. Semua serangan terintegrasi, saling mendukung.

Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, hadir langsung di lokasi. Menurut beliau, latihan ini bukan cuma pamer kekuatan. Lebih dari itu. Ini soal efek gentar, atau yang sering disebut deterrence effect. Maksudnya? Memberi sinyal keras pada siapa pun yang punya niat mengusik kedaulatan NKRI.

Pernyataan Menhan cukup tegas. Katanya, uji kekuatan ini wujud nyata dari kesiapan kita. Baik dari sisi profesionalisme prajurit, maupun kecanggihan alutsista. Di panggung maritim global, Indonesia ingin menunjukkan taringnya.

Di sisi lain, latihan ini juga jadi ajang pembuktian. Bahwa sinergi antara matra laut dan udara bisa berjalan mulus. Tidak ada yang namanya sektor sendiri-sendiri. Semua bergerak dalam satu komando, satu tujuan. Lumayan rapi, meski di lapangan pasti ada riak-rik kecil yang tak terlihat.

Menurut sejumlah saksi di lokasi, suasana perairan Karimunjawa pagi itu terasa berbeda. Biasanya tenang, kali ini riuh rendah deru mesin jet dan dentuman rudal. Nelayan setempat mungkin sempat kaget. Tapi begitulah, latihan perang modern memang tidak pernah sepi dari suara dan gerak.

Sumber informasi ini berasal dari Dinas Penerangan TNI AL. Mereka yang merilis detail operasi ke publik. Jadi, setidaknya kita punya gambaran utuh soal apa yang terjadi di sana.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar