Gaya hidup mewah yang dipamerkan di Instagram, lengkap dengan mobil-mobil super, rupanya jadi umpan yang sempurna. Inilah yang dirasakan Younger, seorang member Akademi Crypto, sebelum akhirnya ia mengaku rugi hingga Rp 3 miliar. Sorotan kini mengerucut pada sosok influencer keuangan Timothy Ronald, yang citra suksesnya menjadi daya tarik utama.
Younger bercerita, ketertarikannya berawal dari unggahan Timothy. “Lihat dia beli mobil mewah di usia muda, ya saya pun tergiur,” ujarnya. Dari sana, keyakinannya tumbuh. Ia pun memutuskan untuk bergabung dengan komunitas Akademi Crypto yang didirikan Timothy bersama rekannya, Kalimasada.
Untuk masuk, ia merogoh kocek Rp 9 juta sebagai biaya keanggotaan awal. Namun, cerita tak berhenti di situ.
Tak lama setelah bergabung, tawaran lain datang: paket member seumur hidup seharga Rp 39 juta. Janjinya, akses penuh ke materi dan sinyal investasi yang menggiurkan. Younger tertarik lagi. Jika dijumlah, ia sudah mengeluarkan sekitar Rp 50 juta hanya untuk biaya keanggotaan. Tapi itu baru permulaan. Perlahan, ia mulai terlibat lebih dalam dalam aktivitas trading yang diarahkan oleh Timothy sendiri.
Setelah resmi jadi member, janji-janji manis mulai berdatangan. Younger mengaku menerima sinyal-sinyal kripto yang dijamin bisa mendatangkan keuntungan fantastis, bahkan sampai 300-500 persen. Ada dokumen PDF yang menunjukkan proyeksi menggiurkan: modal Rp 2 juta konon bisa melambung jadi Rp 2 miliar. Salah satu aset yang direkomendasikan adalah Koin Manta.
Tanpa pikir panjang, Younger mengikuti arahan. Ia membeli Koin Manta lewat beberapa platform seperti Binance dan KuCoin. Tapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya.
Harga koin itu malah anjlok sekitar 60 persen di April 2024. Alih-alih disuruh cut loss, Younger mengaku justru diarahkan untuk menahan asetnya dan bahkan membeli lagi. Alasannya, ini adalah momen “diskon”. Arahan untuk hold itu justru membuat kerugiannya membengkak parah, mencapai sekitar 90 persen dari total dana yang ia gelontorkan. “Saya sama sekali tidak pernah menikmati keuntungan. Semua habis,” katanya. Total kerugiannya membengkak hingga Rp 3 miliar.
Di sisi lain, tekanan psikologis juga ia rasakan. Younger mengaku sempat takut untuk melapor karena mendapat perlakuan verbal yang merendahkan. Ada ancaman, meski tak dijelaskan secara gamblang, yang membuatnya khawatir akan keselamatan keluarganya. Saat kerugian mulai menumpuk, ruang untuk berdiskusi justru ditutup oleh pihak Akademi. Para member seperti tak punya saluran lagi untuk menyuarakan keluhannya.
Namun begitu, akhirnya kasus ini sampai juga ke meja hukum.
Laporan resmi telah dibuat ke Polda Metro Jaya. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Bhudi Hermanto, membenarkan hal ini. Dari informasi yang beredar, korban bukan cuma Younger seorang. Ada sekitar 3.500 anggota lain yang merasa dirugikan, dengan total kerugian ditaksir lebih dari Rp 200 miliar.
Timothy Ronald dan Kalimasada dilaporkan dengan tuduhan melanggar UU ITE, UU Transfer Dana, serta beberapa pasal dalam KUHP. Hingga berita ini ditulis, proses hukum masih terus berjalan. Pihak terlapor sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas segala tudingan yang bermunculan.
Kisah Younger ini jadi pengingat pilu: di balik gemerlap flexing media sosial, kadang tersimpan risiko yang sama besarnya.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor