Di Balik Banjir, Teror di Tenda Pengungsian: Pelecehan Seksual Ancam Perempuan Korban

- Rabu, 14 Januari 2026 | 12:50 WIB
Di Balik Banjir, Teror di Tenda Pengungsian: Pelecehan Seksual Ancam Perempuan Korban

Bencana banjir di Sumatera ternyata meninggalkan luka yang lebih dalam bagi banyak perempuan. Mereka selamat dari amukan air, namun di tempat seharusnya aman tenda pengungsian justru menghadapi teror baru: pelecehan seksual.

Fakta memilukan ini diungkap oleh Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan. Menurutnya, laporan ini datang langsung dari komunitas perempuan yang turun ke lapangan.

"Ketika saya ke Aceh berbicara dengan komunitas perempuan, banyak sekali perempuan korban bencana yang mengalami pelecehan seksual,"

Ujarnya dalam sebuah rapat koordinasi di Sumatera Barat, Selasa lalu. Rapat itu dihadiri sejumlah pejabat penting, mulai dari Mendagri, Kepala BNPB, hingga kepala daerah setempat.

Yang mengkhawatirkan, kejadian ini bukan cuma sekali. Menurut Veronica, insiden semacam ini kerap terjadi, terutama di dalam tenda-tenda pengungsian yang seharusnya menjadi tempat berlindung.

Pengawasan dan Pemisahan Jadi Kunci

Menyikapi hal ini, Veronica menekankan pentingnya pengawasan ekstra. Kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lansia harus mendapat perhatian khusus selama masa darurat. “Tujuannya jelas,” tegasnya, “agar tidak ada lagi yang mengalami hal serupa.”

Solusi konkret yang dia usulkan adalah pemisahan tempat tidur. Perempuan, anak, dan lansia harus dipisahkan dari laki-laki di dalam tenda. Selain itu, fasilitas MCK juga harus bisa dikunci dari dalam untuk keamanan.

Tak cuma itu, dia mendorong semua pihak untuk lebih peka terhadap isu gender. Ibu hamil dan menyusui, misalnya, butuh ruang privat. “Jadi harus ada pemisah,” jelas Veronica, “supaya jangan sampai terlihat sesuatu yang tidak seharusnya terlihat.”

Harapannya, langkah-langkah praktis ini bisa segera diterapkan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana alam sudah cukup berat; jangan sampai korban harus menanggung trauma berlapis di tempat pengungsian.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar