Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tak sungkan menyentil Bupati Sukabumi. Masalahnya, bantuan untuk korban bencana hingga kini belum juga cair. Menurut Dedi, kesalahan administratif dari Pemkab Sukabumi-lah biang keladinya.
Ratusan rumah warga Sukabumi rusak diterjang banjir dan longsor pada Desember 2024 silam. Nah, terkait penanganannya, Dedi menyoroti sebuah kekeliruan. Alih-alih mengajukan permohonan dana kompensasi untuk sekitar 500 rumah itu ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemkab justru mengirimkan usulannya langsung ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Saya sudah cek datanya," ujar Dedi Mulyadi, seperti dilansir Kompas.com, Minggu (12/1/2026).
"Usulan untuk 500 rumah terdampak bencana Desember 2024 itu diusulkannya ke BNPB, bukan ke provinsi."
Ia menegaskan, dalam tata kelola pemerintahan, penanganan bencana yang meluas di wilayah kabupaten harusnya dilaporkan dulu ke pemerintah provinsi. Hal ini termasuk untuk kasus di Babakan Cisarua, Kabupaten Sukabumi, yang penanganannya dinilai masih belum optimal. Dedi tak mau masalah ini berlarut-larut.
"Hari ini saya akan meminta Bupati Kabupaten Sukabumi untuk mengajukan usulan ke provinsi," tegasnya.
"Jadi, di Jawa Barat ini, kalau ada berbagai hal, pasti larinya ke gubernur. Kita akan segera selesaikan masalah itu agar ada tindak lanjut untuk 500 rumah yang rusak."
Namun begitu, sorotan Dedi tidak berhenti di soal administrasi belaka. Ia juga menyentil kondisi lingkungan di Sukabumi yang disebutnya cukup problematik. Kerusakan alam di sana, katanya, sudah sangat masif.
"Di sana banyak sekali titik penambangan, baik legal maupun ilegal," ungkap Dedi, seperti dilaporkan TribunJabar.id.
"Terjadi banyak alih fungsi lahan dan menyusutnya area hutan hijau."
Fakta lain yang ia soroti adalah status Sukabumi sebagai kabupaten dengan kebun sawit terluas se-Jawa Barat. Sayangnya, keuntungan ekonomi dari komoditas ini rupanya tidak sebanding dengan kerusakan yang ditinggalkan.
"Kebun sawit terbesar di Jabar ada di Sukabumi. Dampaknya, jalan-jalan hancur karena mobil ber-tonase tinggi lalu lalang setiap hari," paparnya.
"Kalau ini dibiarkan, ya problem bencana dan kerusakan akan terus berulang."
Data produksi tahun 2024 memang mengukuhkan posisi Sukabumi. Dengan total produksi mencapai 99.448 ton, kabupaten ini menjadi penghasil sawit tertinggi di Jawa Barat, jauh meninggalkan daerah lainnya. Sebut saja Kabupaten Bogor di posisi kedua dengan 53.471 ton, disusul Garut (25.697 ton) dan Cianjur (20.043 ton). Sementara, Tasikmalaya dan Banjar mencatatkan produksi yang sangat kecil, masing-masing hanya 68 ton dan 8 ton.
Angka fantastis itu sekaligus menegaskan Sukabumi sebagai tulang punggung ekonomi daerah dari sektor perkebunan sawit. Hanya, di balik angka yang gemilang itu, tersimpan persoalan lingkungan dan tata kelola yang masih menuntut perhatian serius.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor