Suasana di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Jumat lalu benar-benar heboh. Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sebuah mobil dikerubuti dan dikejar puluhan warga. Rekaman itu menegangkan, dan cerita di baliknya ternyata lebih mencengangkan lagi.
Semuanya berawal dari sebuah tabrakan. Sebuah mobil menabrak dua sepeda motor di Jalan M Yamin, Kisaran. Bukannya berhenti, pengemudinya malah kabur. Dia melaju kencang, menghindari kejaran.
Namun begitu, massa yang geram tak begitu saja menyerah. Kejaran berlanjut hingga mobil itu terjepit kemacetan di Jalan Lintas Sumatera, tepatnya di Desa Sei Bluru. Di situlah puncaknya. Warga berkerumun, emosi memuncak. Situasi hampir ricuh ketika beberapa orang mencoba menarik keluar pengemudi yang masih bertahan di dalam mobil.
Lalu, tersiar kabar yang bikin semua orang terhenyak: pengemudi mobil itu ternyata seorang polisi.
Kasi Humas Polres Asahan, AKP Herli D Damanik, membenarkan kejadian itu.
"Memang benar terkait video viral tentang tabrakan yang terjadi di beberapa titik pada hari Jumat," ujar Herli, Sabtu (10/1/2026).
Menurut penjelasannya, sang anggota polisi itu panik. Tabrakan pertama terjadi di daerah pajak lama, kemungkinan hanya senggolan. Tapi karena ketakutan dikejar, dia memilih untuk lari. Pilihan itulah yang berujung petaka.
Dia terus melaju, dan tabrakan berikutnya pun terjadi di tempat lain. Total, empat motor menjadi korban dalam aksi kaburnya itu. Rasa paniknya, alih-alih mereda, justru memicu rentetan kejadian yang berakhir dengan kejaran massa yang murka.
Di sisi lain, situasi berhasil diredam. Pelaku diamankan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Proses penyelesaian pun diambil.
"Kami terima kasih dengan adanya berita ini dari media. Perintah Pak Kapolres agar ditindaklanjuti. Kami ke TKP dan membawa korban ke rumah sakit. Semua berjalan baik dan diselesaikan secara kekeluargaan, tidak ada tuntutan dari korban," tambah Herli.
Anggota polisi yang bersangkutan telah mendatangi para korban. Mereka memilih jalur musyawarah, berdamai, ketimbang berpanjang-panjang di ranah hukum. Semua selesai secara kekeluargaan.
Meski begitu, peristiwa ini jelas meninggalkan catatan. Sebuah ironi yang pahit, di mana seorang aparat yang seharusnya menjadi contoh justru membuat keputusan ceroboh di tengah jalan. Kepanikan yang berujung pada pelanggaran, dan nyaris memicu kerusuhan. Sebuah pelajaran mahal untuk semua.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor