Dari Bensin ke Listrik: Kisah Driver Ojol yang Hemat Rp 45 Ribu Sehari

- Minggu, 11 Januari 2026 | 15:50 WIB
Dari Bensin ke Listrik: Kisah Driver Ojol yang Hemat Rp 45 Ribu Sehari

Bagi Zulfikar, motor listrik bukan sekadar tren. Itu adalah alat kerja yang menopang hidupnya. Sebagai driver ojek daring, ia menghabiskan waktu berjam-jam di jalanan Jakarta. Dan selama dua tahun terakhir, Polytron Fox R listriknya menjadi andalan untuk menempuh ratusan kilometer setiap harinya.

“Paling jauh hampir 200 kilometer sehari. Rata-rata memang di kisaran itu,” ujarnya.

Angka itu bukan main-main. Tapi Zulfikar bilang, dia tak pernah merasa keteteran soal daya. Pengisian baterai biasanya dilakukan dua kali sehari, dan itu justru jadi momen istirahat yang pas. Sambil ngecas, dia bisa makan atau sekadar meregangkan badan. Jadi, waktunya tidak terbuang percuma.

Nah, kalau bicara soal biaya, di sinilah perbedaannya benar-benar terasa. Zulfikar punya perbandingan yang jelas dengan pengalamannya pakai motor bensin sebelumnya.

“Kalau pakai motor bensin, per hari saya bisa keluar bensin sekitar Rp 60 ribu. Pakai motor listrik paling cuma Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu,” katanya.

Penghematannya signifikan, bukan cuma di situ. Ia juga menekankan soal perawatan. Motor bensin butuh perhatian rutin: ganti oli, servis berkala, dan sebagainya. Sementara motor listriknya jauh lebih sederhana. “Kecuali ada kendala teknis saja,” jelasnya. Minim perawatan berarti lebih hemat lagi.

Sebelum beralih, Zulfikar setia dengan Honda Vario 125 selama delapan tahun. Lantas, bagaimana dengan ketahanan motor listrik di kondisi ekstrem, misalnya saat hujan deras atau banjir? Menurutnya, selama digunakan dengan wajar, tak ada masalah.

“Kalau banjir Alhamdulillah aman, sampai dan pulang nggak ada masalah. Motor listrik kan pakai BLDC di roda belakang, asal jangan lebih dari 30 menit di air dan tetap bergerak, masih aman,” tuturnya.

Motor yang ia gunakan masih standar pabrikan. Tidak ada modifikasi ekstrem seperti penambahan baterai. Hanya sedikit penyesuaian pada cara mengemudi untuk mendapatkan efisiensi terbaik. “Tinggal adaptasi aja buat atur gasnya,” katanya.

Ia menambahkan, “Kalau motor listrik itu tergantung tangan juga. Nggak kayak motor bensin yang harus digeber, ini bisa di-gliding saja.”

Dengan semua pengalaman itu, Zulfikar sudah tidak punya niatan kembali ke motor bensin. Malah, rencananya ke depan ia ingin menambah armada motor listrik lagi. Baginya, pilihan ini sudah tepat: irit, andal, dan cocok untuk tuntutan kerja yang tinggi di jalanan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar