Kamboja Deportasi 30.000 Tersangka Penipuan Daring, 210.000 Lainnya Hengkang Sukarela

- Kamis, 26 Februari 2026 | 14:50 WIB
Kamboja Deportasi 30.000 Tersangka Penipuan Daring, 210.000 Lainnya Hengkang Sukarela

Sejak pertengahan tahun lalu, Kamboja terlihat serius memberantas bisnis kotor penipuan daring yang beroperasi di wilayahnya. Gerakan besar-besaran ini membuahkan hasil yang cukup mencengangkan. Lebih dari 210.000 pekerja asing yang terlibat dalam pusat-pusat scam online itu telah pergi meninggalkan negara itu. Mereka hengkang secara sukarela.

Namun begitu, tidak semua berjalan mulus. Otoritas setempat ternyata juga tak segan bertindak tegas. Sekitar 30.000 orang lainnya justru ditangkap dan kemudian dideportasi paksa ke negara asal masing-masing.

Menteri Dalam Negeri sekaligus Wakil Perdana Menteri Kamboja, Sar Sokha, dengan tegas menyampaikan angka-angka itu.

"Dalam kampanye anti-penipuan daring kami, hingga saat ini, lebih dari 210.000 warga asing telah meninggalkan Kamboja secara sukarela dan lebih dari 30.000 tersangka asing telah ditangkap dan dideportasi kembali ke negara asal mereka,"

Pernyataan itu disampaikan Sokha pada Kamis lalu, menegaskan komitmen pemerintah. Dia bahkan mengingatkan agar aparat di semua level tidak boleh kendor.

"Saya ingin menyerukan kepada pihak berwenang di semua tingkatan untuk tidak melonggarkan penindakan guna mencapai target pemerintah untuk menghilangkan semua pusat penipuan daring di Kamboja,"

Targetnya jelas: membersihkan Kamboja dari sarang penipuan siber. Operasi nasional yang digelar bukan cuma soal keamanan dalam negeri. Di balik itu, ada upaya memperbaiki reputasi negara di mata dunia. Citra Kamboja yang sempat tercoret oleh maraknya kejahatan digital ini ingin dipulihkan.

Nah, pemerintah ternyata sudah punya batas waktu yang ketat. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Touch Sokhak, mengungkapkan tenggat itu. April 2026 dijadikan target pemberantasan total terhadap semua jaringan penipuan daring yang masih tersisa.

Cerita di balik angka-angka besar tadi sebenarnya cukup kompleks. Banyak dari pekerja di pusat scam itu adalah korban perdagangan manusia, terjebak dalam jerat sindikat. Tapi, di sisi lain, tidak sedikit pula yang bergabung atas kemauan sendiri, tergiur oleh iming-iming penghasilan besar dari aksi penipuan mereka.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar