Nah, pelajaran-pelajaran itulah yang sekarang coba ditanamkannya di Persija. Tantangannya tentu beda. Ekspektasi suporter Macan Kemayoran itu besar, sejarah klub panjang, dan persaingan di liga makin sengit. Tapi justru di situlah nilai seorang Mota diuji.
Ia datang bukan cuma sebagai pemain asing biasa. Ada sesuatu yang ia bawa: semacam “DNA kompetisi” dari liga yang terus berkembang seperti MLS. Dan dalam benaknya, semua berpusat pada satu hal.
“Yang paling penting adalah mental untuk selalu bersaing. Itu yang ingin saya bawa ke Persija,” tegasnya.
Ambisi itu klop dengan target Persija musim ini: merebut gelar yang kini dipegang rival bebuyutan, Persib Bandung. Di tengah persaingan ketat, sosok seperti Mota bisa jadi pembeda. Bukan cuma karena umpan-umpan akuratnya, tapi karena cara pikir dan mentalitas yang ia dapat dari panggung sepak bola dunia.
Karena pada akhirnya, sepak bola seringkali bukan tentang siapa yang paling berbakat. Tapi tentang siapa yang paling punya mental pemenang. Siap secara mental untuk menang, dalam kondisi apa pun.
Artikel Terkait
Pelatih Dewa United Ingatkan Ivar Jenner: Panggilan Timnas Bukan Akhir Segalanya
Thom Haye: Persib Siap Bertempur Mati-matian untuk Pertahankan Puncak Klasemen di Padang
Tiga Striker Brasil Bersaing Ketat di Puncak Klasemen Pencetak Gol Super League
Mohamed Salah Diprediksi Tinggalkan Liverpool, Liga Pro Saudi Jadi Tujuan Utama