Tak cuma soal individu, Herdman juga menyoroti fleksibilitas tim secara keseluruhan. Dalam dua pertandingan terakhir, skuad Garuda menunjukkan mereka bisa beradaptasi dengan perubahan sistem. Dari formasi 4-4-2 beralih ke lima bek, dan tetap solid.
“Saya meminta para pemain untuk berani. Mereka harus siap beradaptasi dan memainkan gaya baru,” jelasnya panjang lebar. “Itu menunjukkan kemampuan adaptasi tim ini, sesuatu yang ingin kami tunjukkan kepada penggemar.”
Namun begitu, sorotan utama tetap pada Verdonk. Bagi Herdman, kualitasnya jelas berada di atas rata-rata. Dia seolah bermain di level yang berbeda dibanding kebanyakan rekan setimnya saat ini.
“Saya bangga dengan Calvin malam ini,” tandas Herdman dengan nada pasti. “Dia berada di level teratas. Dia pantas mendapatkan lebih.”
Penilaian itu bukan tanpa alasan. Di atas lapangan hijau SUGBK yang basah, Verdonk memang terlihat menonjol. Gerakannya tajam, penguasaan bola baik, dan keputusannya seringkali tepat. Meski gol kemenangan Bulgaria akhirnya tercipta dari titik putih di menit ke-37 melalui eksekusi Marin Petkov, kontribusi Verdonk sepanjang 90 menit tak bisa dipandang sebelah mata.
Kini, sorotan beralih. Pujian Herdman ini bukan sekadar penghiburan usai kekalahan, melainkan penanda. Calvin Verdonk, dengan segala kelengkapannya, dipandang sebagai salah satu pilar penting untuk perkembangan Timnas Indonesia ke depannya.
Artikel Terkait
Italia Hadapi Bosnia di Zenica dalam Final Kualifikasi Piala Dunia 2026
Pelatih Bulgaria Puji Level Timnas Indonesia Usai Kemenangan Tipis di Final FIFA Series
Nagelsmann Peringatkan Jerman Soal Disiplin Posisi Meski Taklukkan Ghana
Timnas Indonesia Kalah Tipis dari Bulgaria di Final FIFA Series, Verdonk: Kami Tampil Lebih Baik