Polemik 41 Dapur MBG di Sulsel: Aturan Dilanggar, Janji Penertiban Menguap

- Senin, 30 Maret 2026 | 10:00 WIB
Polemik 41 Dapur MBG di Sulsel: Aturan Dilanggar, Janji Penertiban Menguap

Isu pengelolaan 41 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau SPPG di Sulawesi Selatan masih menyisakan tanda tanya besar. Bagaimana mungkin satu kelompok, Yasika Group milik Yasika Aulia Ramadhani, bisa menguasai sebanyak itu? Padahal, aturan Badan Gizi Nasional (BGN) jelas: satu yayasan maksimal cuma boleh mengelola 10 SPPG dalam satu provinsi.

Kabar soal ini sebenarnya sudah ramai sejak akhir tahun lalu, November 2025, dan terus bergulir. Isunya sederhana tapi menggelitik: aturan dilanggar, lalu bagaimana tindak lanjutnya?

Ketika pemberitaan viral, respons datang dari Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad. Lewat akun X-nya, dia menulis singkat,

“Kita Tertibkan.”

Namun begitu, empat bulan sudah berlalu. Janji penertiban itu seperti tenggelam, tak ada kejelasan lagi. Padahal, sosok di balik Yasika Group ini bukan sembarang orang. Yasika adalah putri dari Yasir Machmud, Wakil Ketua DPRD Sulsel yang tak lain adalah kader Partai Gerindra. Politikus sekaligus pengusaha ini melenggang ke kursi dewan setelah meraih puluhan ribu suara di Dapil Bone.

Aturan 10 SPPG dan Kecurigaan 'Backdoor'

Kepala BGN, Dadan Hindayana, pernah menegaskan aturan itu dengan gamblang. Itu dilakukannya untuk merespons laporan soal oknum yayasan yang menguasai puluhan dapur di satu wilayah.

“BGN telah menetapkan satu yayasan hanya boleh mengelola 10 dapur untuk provinsi yang sama. Jadi, kalau dia pindah provinsi hanya lima, itu sudah pasti,” tegas Dadan di Jakarta, November 2025 lalu.

Lalu, bagaimana Yasika Group bisa mengelola 41 unit? Muncul dugaan kuat bahwa kelompok ini menggunakan beberapa yayasan berbeda sebagai 'pintu belakang' untuk proposal ke BGN. Logikanya, untuk 42 SPPG, setidaknya dibutuhkan lima yayasan. Pertanyaannya kemudian, apakah praktik semacam ini dibenarkan? Bisakah satu pengusaha mengendalikan banyak yayasan untuk satu program yang sama?

Sindiran Pedas Said Didu dan Potensi Keuntungan Fantastis

Praktik ini memantik komentar pedas dari tokoh kritis Said Didu. Dengan sarkasme khasnya, dia menyindir semangat pemberantasan korupsi pemerintahan baru.

“Woowwww. Inikah praktek awal Serakahnomic ? Setahu saya Bpk Presiden @prabowo yg juga pimpinan Partai Bapak pengelola 41 dapur tersebut (wakil Ketua DPRD Sulsel) sedang memberantas Serakahnonic,” tulisnya di X.

Di balik polemik, angka-angka yang berputar sungguh mencengangkan. Investasi untuk satu dapur MBG disebutkan sekitar Rp1,5 miliar. Dengan 41 dapur, totalnya bisa mencapai Rp61,5 miliar. Yang lebih fantastis lagi, potensi keuntungannya. Jika setiap dapur melayani 3.000 siswa dengan margin Rp2.000 per porsi, maka pendapatan kotor hariannya bisa menyentuh Rp246 juta. Angka yang tidak main-main.

Dapur-dapur ini tersebar di titik strategis: 16 di Makassar, 10 di Bone, 3 di Parepare, dan 2 di Gowa. Sisanya masih dalam penyelesaian. Saat dikonfirmasi Sulawesi Pos akhir Maret lalu, Yasir Machmud memilih diam. Dia enggan berkomentar soal bisnis putrinya itu.

Respons BGN: Lanjut Dulu, Evaluasi Belakangan

Dari pihak BGN sendiri, responsnya terasa hati-hati. Juru bicara BGN, Dian Fatwa, irit bicara dan berdalih masalah ini sudah diklarifikasi pimpinan pusat. Namun, Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, memberikan pernyataan lebih jelas.

Intinya, operasional 41 dapur itu tidak akan dihentikan. Alasannya, agar anak-anak penerima manfaat tidak terganggu. Meski sempat jadi polemik, menurut Nanik, evaluasi kinerja akan tetap dilakukan berkala.

“Proses pendaftaran SPPG dilakukan melalui berbagai yayasan, sehingga sulit memverifikasi latar belakang pemilik secara rinci di awal,” ujarnya, menjelaskan mengapa kepemilikan ganda seperti ini bisa terjadi.

Dia menegaskan aturan akan diperketat ke depan. Tapi untuk saat ini, dapur yang sudah berjalan baik akan dipertahankan.

Di salah satu lokasi dapur milik Yasika Group di Makassar, aktivitas tampak berjalan normal. Beberapa unit mobil operasional terparkir, siap mengantar ribuan paket makanan ke sekolah-sekolah. Seorang sumber dari pengelola dapur yang enggan namanya disebut mengaku, pelayanan sama sekali tidak terganggu oleh hiruk-pikuk pemberitaan. Bisnis, rupanya, terus berjalan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar