Pasar saham Indonesia hari ini ditutup dengan catatan merah yang cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,65 persen di sesi Senin (2/3/2026). Meski begitu, ada sedikit pelipur lara: indeks masih bertahan di atas level psikologis 8.000, tepatnya mengeras di posisi 8.016.
Transaksi hari ini terbilang ramai, tembus Rp28,6 triliun. Volume perdagangannya mencapai 550 juta lot dengan frekuensi transaksi yang terjadi lebih dari 3,6 juta kali. Angka-angka ini menunjukkan betapa sibuknya aktivitas di lantai bursa.
Lalu, apa penyebabnya? Semua mata tertuju ke Timur Tengah. Konflik yang memanas antara Iran dan Israel telah menciptakan gelombang kecemasan di pasar global. Seperti biasa dalam situasi geopolitik seperti ini, investor langsung berlarian mencari aset safe haven. Minyak dan emas pun langsung melonjak, dan saham-saham yang terkait dengan kedua komoditas itu ikut terbang tinggi.
Lihat saja saham-saham energi. MEDC (Medco Energi) melesat 16 persen ke Rp1.995. ENRG (Energi Mega Persada) bahkan lebih gila lagi, terbang 25 persen ke level Rp2.200. ELSA (Elnusa) tak mau ketinggalan, naik 18 persen ke Rp1.000.
Di sisi lain, saham emas juga ikut menguat, meski kenaikannya tak se-spektakuler saham minyak. ANTM (Aneka Tambang) naik 6 persen, ARCI (Archi Indonesia) juga menguat 6 persen, sementara BRMS (Bumi Resources Minerals) menghijau 4 persen.
Analis dari Phintraco Sekuritas memberikan pandangannya. Mereka menilai perang antara Iran dan AS-Israel jelas akan mendorong harga minyak melambung.
Namun begitu, ada catatan penting. Situasi ini berpotensi membebani APBN jika kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah berlangsung dalam waktu lama. Jadi, ada dua sisi mata uang yang harus diperhatikan.
Dengan kondisi ini, sektor minyak dan gas (migas) jelas diuntungkan. Kekhawatiran akan terganggunya suplai membuat harga komoditas energi ini melonjak. Emas juga ikut bersinar karena statusnya sebagai pelindung nilai.
Phintraco menambahkan, "Kenaikan pada harga migas juga berpotensi mendorong komoditas yang dapat menjadi alternatif energi seperti batu bara, nikel, dan CPO. Untuk sektor oil & gas shipping, akan terdampak positif jika tarif freight naik karena akan memperpanjang rute pelayaran."
Dampaknya terlihat jelas di papan sektoral. Sektor energi menjadi satu-satunya yang berhasil bertahan di zona hijau, dengan kenaikan 1,54 persen. Sementara itu, sektor-sektor lain terperosok, dengan sektor siklikal mengalami penurunan paling dalam, hingga 7,6 persen.
Di luar hiruk-pikuk saham energi dan emas, ada beberapa saham lain yang juga mencatatkan kenaikan tajam. BBSI (Krom Bank) naik 19 persen, MAIN (Malindo Feedmill) menguat 12 persen, dan ISSP (Steel Pipe Industry) naik 6 persen.
Tentu, di balik para pemenang, selalu ada yang kalah. Tekanan pada IHSG membuat beberapa saham terjungkal. FILM (MD Entertainment) anjlok 15 persen, KOTA (DMS Propertindo) turun 14 persen, dan GTSI (GTS International) melemah 14 persen.
Hari ini, pasar sekali lagi diingatkan betapa rapuhnya ia terhadap gejolak politik di belahan dunia lain. Investor pun harus siap dengan segala kemungkinan.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Sistem Tol Tanpa Palang Masih Tahap Uji Fungsi Dasar
Pabrik Baru PT Mulia Boga Raya (KEJU) Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif
WMUU Bakal Rights Issue Rp600 Miliar, Harga Penawaran Lebih Tinggi dari Pasar