Hari-hari ini, warga Samarinda merasakan sesuatu yang berbeda. Udara terasa begitu menyengat, panasnya menusuk kulit. Ternyata, fenomena alam bernama Ekuinoks sedang berlangsung, seperti yang dijelaskan oleh BMKG Samarinda.
Fathul Hidayatullah, prakirawan setempat, memaparkan bahwa Ekuinoks adalah peristiwa tahunan. Saat itulah, posisi semu matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa. Fenomena ini rutin terjadi dua kali setahun, sekitar Maret dan September, dan membuat radiasi matahari di wilayah seperti Kalimantan mencapai puncaknya.
Menurutnya, minimnya tutupan awan membuat sinar matahari langsung menerpa bumi tanpa ada yang menghalangi. Makanya, suhu terasa begitu panas dan menyiksa.
Data dari Stasiun Meteorologi APT Pranoto mencatat, suhu maksimum di Samarinda sudah mencapai 34 derajat celsius. Tapi, panas terik ini rupanya baru permulaan. Menurut Fathul, tantangan cuaca yang lebih dinamis sudah menunggu di depan.
Di sisi lain, kita harus bersiap menghadapi perubahan. Menjelang akhir April hingga Mei nanti, wilayah Kalimantan Timur akan memasuki masa pancaroba. Masa peralihan ini dikenal dengan polanya yang tak menentu dan berpotensi ekstrem.
Artikel Terkait
Polda Riau Ungkap 3.164 Kasus Narkoba dan Pecat 18 Anggotanya Sendiri
Polisi Tangkap Dua Pelaku Pencurian Motor di Batuceper Saat Dorong Kendaraan Hasil Curian
RSU Muslimat Ponorogo Resmikan Gedung Gus Dur, Perkuat Layanan Ibu dan Anak
GB KEK di Pulau Poto Bintan Serap Ribuan Tenaga Kerja, Jawab Isu Stagnasi