Zenica bakal jadi saksi satu malam yang menentukan. Di Stadion Bilino Polje nanti dini hari, Italia dan Bosnia & Herzegovina bentrok. Hanya satu yang bisa merebut tiket ke Piala Dunia 2026. Suasana? Campuran aduk antara ketegangan mencekam dan trauma lama yang belum juga sirna.
Gli Azzurri datang dengan beban berat. Mereka harus mengakhiri puasa panjang, lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2014. Kutukan absen tiga edisi beruntun harus dipatahkan. Semangat mereka cukup terangkat usai menang 2-0 atas Irlandia Utara di Bergamo pekan lalu, yang membawa mereka ke final jalur A ini.
Di sisi lain, Bosnia tampaknya punya mimpi sendiri. Mereka baru saja mengandaskan Wales lewat drama adu penalti di semifinal. Kini, peluang untuk tampil di Piala Dunia kedua mereka setelah debut di Brasil 2014 terbuka lebar. Semangat juang mereka jelas tak bisa diremehkan.
Gennaro Gattuso, pelatih Italia, tak menampik adanya ketegangan di skuadnya. Tapi menurut dia, Bosnia yang jadi tuan rumah pasti merasakan hal serupa, bahkan mungkin lebih.
"Ini final. Kita tahu ini sulit, dan kita sudah siap mental. Rasa tegang yang kita alami, lawan kita pasti juga merasakannya," ujar Gattuso.
Sandro Tonali, pencetak gol pembuka di Bergamo, mengaku bayang-bayang kegagalan lolos Piala Dunia sebelumnya masih membayangi. Itu terlihat di babak pertama lawan Irlandia Utara, saat permainan Italia terasa kaku dan gugup. Untungnya, golnya mengubah segalanya. Mental tim berubah total di babak kedua.
Namun begitu, kapten Manuel Locatelli buru-buru meredam euforia. Ia mengingatkan, misi belum usai.
"Kami masih harus bermain di final. Kami belum mencapai apa-apa," tegas gelandang Juventus itu.
Dan memang, Italia tak boleh lengah sedikit pun. Bosnia di depan pendukungnya sendiri di Zenica akan jadi lawan yang sangat berbeda. Mereka siap menambah penderitaan Italia.
Pelatih Bosnia, Sergej Barbarez, bicara dengan nada penuh keyakinan.
"Kami punya tekad membahagiakan seluruh bangsa. Sudah terlalu lama kami terpuruk, dan ini saatnya kami memutus spiral negatif itu. Saya sangat menantikan laga melawan Italia," katanya.
Ia juga menyebut, pemainnya yang berkarier di Italia seperti Sead Kolašinac dan Tarik Muharemović akan punya motivasi ekstra. "Kemenangan dalam pertandingan seperti inilah yang mendefinisikan kesuksesan," tegas Barbarez.
Striker senior Edin Džeko lebih realistis. Ia mengakui Italia tetap favorit. Tapi bagi penyerang yang sangat mengenal pertahanan Italia berkat masa lalunya di AS Roma dan Inter Milan ini, ini justru tantangan yang sempurna.
"Italia datang sebagai favorit besar. Tapi kami punya 90 menit untuk membuktikan diri," kata Džeko yang sudah berusia 40 tahun itu.
Dari sisi susunan pemain, Barbarez kemungkinan akan mempertahankan inti tim yang sukses di semifinal. Duet Džeko dan Ermedin Demirović dipercaya lagi menggedor pertahanan lawan.
Sementara Italia tetap akan mengandalkan Moise Kean, pencetak gol kedua mereka pekan lalu. Dia diduetkan dengan talenta muda Inter Milan, Pio Esposito yang baru berusia 20 tahun.
Ini bakal jadi pertemuan ketujuh antara kedua tim. Ceritanya dimulai tahun 1996, saat Bosnia menang mengejak 2-1 dalam sebuah laga persahabatan di Sarajevo. Sejak itu, Italia mendominasi. Dari lima pertemuan berikutnya, mereka menang empat kali dan sekali imbang.
Malam nanti, sejarah akan ditulis ulang. Siapa yang trauma berlanjut, dan siapa yang akhirnya bisa bernapas lega?
Perkiraan Susunan Pemain
Bosnia & Herzegovina (4-4-2): Vasilj; Dedić, Katić, Muharemović, Kolašinac; Memić, Hadžiahmetović, Bajraktarević, Alajbegović; Džeko, Demirović.
Italia (3-5-2): Donnarumma; Mancini, Bastoni, Calafiori; Politano, Barella, Locatelli, Tonali, Dimarco; Kean, Esposito.
Artikel Terkait
Barcelona Siapkan Dana 100 Juta Euro untuk Cari Pengganti Lewandowski, Julian Alvarez Incaran Utama
Flick Siap Hadapi Mourinho Jika Kembali Tangani Real Madrid
Rayhan Hannan Pilih Fokus Main Bola Ketimbang Terlena Sorotan John Herdman
Persijap Jepara Tahan Imbang Persib Bandung 0-0, Catatkan Diri sebagai Tim Kedua yang Bikin Tuan Rumah Tanpa Gol di Kandang