Ketegangan Hormuz dan Ancaman Perang Dorong Harga Minyak Mendekati USD100

- Senin, 30 Maret 2026 | 07:35 WIB
Ketegangan Hormuz dan Ancaman Perang Dorong Harga Minyak Mendekati USD100

Harga minyak dunia kembali meroket di akhir pekan lalu. Kekhawatiran pasar makin menjadi-jadi, terutama soal Selat Hormuz yang masih tertutup dan kecilnya harapan perdamaian cepat di kawasan itu. Situasinya memang mencemaskan.

Menjelang Sabtu dan Minggu, ketegangan justru makin terasa. Pasokan minyak global masih rentan terganggu, dan itu bikin semua orang waspada. Arlan Suderman, seorang analis senior di StoneX, bilang bayang-bayang perang masih sangat nyata dan mengintai para pelaku pasar.

“Ketegangan perang meningkat menjelang akhir pekan,”

Begitu kata Suderman dalam catatannya yang dilansir Dow Jones Newswires.

Ia ngomong, meski Presiden AS Donald Trump memberi waktu tambahan buat negosiasi dengan memperpanjang tenggat serangan ke Iran, pasar minyak tetap tak tenang. Mereka masih menambahkan premi risiko karena takut pasokan global bakal makin seret sebelum ada titik terang yang jelas. Menurut hitungan Suderman, dunia bisa kehilangan pasokan minyak sementara hingga 13 persen. Angka yang nggak main-main.

Dan Boston dari Polar Capital punya pandangan serius. Menurutnya, durasi penutupan Selat Hormuz adalah kunci masalah.

“Semakin lama Selat Hormuz ditutup, semakin besar gangguan yang terjadi dan semakin tinggi ketidakpastian harga minyak,”

tegas Boston.

Dampaknya sudah merambat kemana-mana. Kenaikan harga energi ini mulai terasa di kantong belanja, mendongkrak biaya makanan dan transportasi. Alhasil, ekspektasi inflasi terdorong naik dan sentimen konsumen pun tertekan. Suasana jadi makin suram.

Nah, soal pergerakan harga, Vladimir Zernov dari FX Empire kasih analisis teknikal. Minyak jenis WTI berhasil bertahan di atas level kunci USD97,00-USD97,50. Dengan posisi itu, peluang untuk ngetes level psikologis USD100,00 terbuka lebar. Kalau tembus, Zernov lihat potensi kenaikan lanjutan menuju area USD102,00-USD102,50.

Brent juga tak kalah kuat. Kontrak ini bertahan di atas USD112,00 dan berpeluang lanjut menguat. Target berikutnya ada di kisaran USD118,50-USD119,00, yang kebetulan merupakan level puncak dalam beberapa tahun belakangan. Zernov mengakui indikator RSI sudah mendekati jenuh beli, tapi momentum naik dalam jangka pendek masih terlihat kuat.

Tapi ya, semua analisis teknikal itu bisa berantakan kalau faktor geopolitik main hantam. Ketika pasokan fisik benar-benar terganggu oleh konflik, grafik dan indikator seringkali kehilangan taringnya. Itu yang harus diingat.

Secara angka, WTI ditutup melonjak 5,5 persen ke USD99,64 per barel, naik 1,3 persen untuk sepekan. Sementara Brent menguat 4,2 persen ke USD112,57 per barel, dengan kenaikan mingguan 0,3 persen.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar