Fu Haifeng, legenda bulu tangkis China yang smash-nya begitu ditakuti itu, ternyata menyimpan cerita yang tak banyak orang tahu. Ya, di balik prestasi gemilangnya, ada kaitan emosional yang kuat dengan Indonesia. Memang, sedikit yang menyadari fakta ini.
Darah Nusantara ternyata mengalir dalam diri atlet kelahiran 23 Agustus 1983 tersebut. Menarik sekali, bukan? Untuk memahami hal ini, kita perlu menelusuri lebih dalam jejak keluarganya.
Menurut laporan Sohu Sports, rahasia silsilah Fu Haifeng baru terungkap belakangan. Ternyata, ayahnya, Fu Mingying, lahir di Indonesia. Awal mula ceritanya berawal dari sang kakek.
Kakek Fu Haifeng memutuskan merantau ke Indonesia sejak masih belia, umur 16 tahun. Keluarga mereka pun menetap di sana. Namun, kehidupan yang sudah dibangun harus berakhir pada era 1960-an.
Gejolak kerusuhan rasial saat itu memaksa sang kakek mengambil keputusan berat. Demi keselamatan, seluruh keluarga diboyongnya kembali ke China. Mereka akhirnya menetap di wilayah Nanshan.
Meski Fu Haifeng lahir dan besar sepenuhnya di Tirai Bambu, warisan budaya itu sempat bertahan. Kakek dan ayahnya masih fasih berbahasa Indonesia. Sayangnya, kemampuan berbahasa itu tak sempat diturunkan secara lisan kepada Fu Haifeng kecil.
Di sisi lain, di atas lapangan, Fu adalah rival yang paling ditakuti. Terutama bagi pasangan ganda putra Indonesia. Namanya seolah jadi penghalang besar.
Prestasinya berbicara sendiri. Dia meraih dua medali emas Olimpiade berturut-turut, dan itu dengan pasangan yang berbeda. Pertama di London 2012 bersama Cai Yun.
Lalu, keajaiban itu terulang di Rio 2016. Kali ini, pendampingnya adalah Zhang Nan.
"Bisa dikatakan awal 2000-an hingga akhir 2016 adalah masa kejayaan Fu. Tak hanya emas Olimpiade, berbagai prestasi di turnamen BWF World Tour berhasil ia rengkuh,"
Begitu tulis laporan Sohu Sports. Memang, periode itu adalah era dominasinya.
Namun begitu, meski kerap menjadi 'musuh' bagi atlet Tanah Air, Fu Haifeng punya rasa hormat tersendiri pada Indonesia. Rivalitas sengitnya dengan para legenda Indonesia justru membentuk narasi epik. Narasi yang membuatnya selalu dikenang, bahkan disegani, oleh para penggemar bulu tangkis di sini. Sebuah ironi yang manis, dari seorang legenda dengan akar yang tak pernah benar-benar terputus.
Artikel Terkait
Kisah Sabina Altynbekova: Dari Cuci Baju Manual di Asrama Hingga Jadi Bintang Voli Dunia
Tony Gunawan, Satu-Satunya Pebulu Tangkis yang Juara Dunia untuk Dua Negara Berbeda
Aleix Espargaro Puji Peran Alberto Puig di HRC: Sosok Pembela Pembalap yang Tetap Jadi Figur Sentral
Bruno Moreira Cetak Brace di Laga Pamungkas, Persebaya Hajar Persik 5-0