Senin lalu, di kawasan Papanggo, Jakarta Utara, suasana pagi terasa berbeda. Sementara sorotan banyak orang tertuju pada kemegahan Jakarta International Stadium (JIS) di dekatnya, seorang petani bernama Akim justru sibuk memetik daun kemangi di hamparan lahan hijau. Di sela-sela pembangunan megastruktur, ternyata masih ada sudut-sudut kota yang menghasilkan sayuran segar: kangkung, bayam, sawi, dan tentu saja kemangi yang sedang dipanennya.
Ini adalah pemandangan yang kontras, jujur saja. Di balik hiruk-pikuk metropolitan, tangan-tangan sederhana seperti milik Akim tetap bekerja, menjaga ketersediaan pangan dari lahan yang nyaris tak terlihat.
Akim, 42 tahun, asal Indramayu, sudah menggarap pertanian perkotaan sejak 2015. Lahan yang ia tanami bukan miliknya. Setiap bulan, ia mengeluarkan uang Rp 300 ribu untuk biaya keamanan, dibayarkan pada warga setempat. Itulah tarif untuk bisa bertahan di sela-sela tekanan pembangunan.
Dari lahan sederhana itu, penghasilan dirajutnya. Dalam sehari, ia bisa memanen 20 sampai 30 gabung kemangi. Satu gabung isinya sekitar 30 ikat, yang ia jual seharga Rp 8 ribu per gabungnya.
“Hasilnya saya pasok ke pasar tradisional sama ke pedagang nasi langganan,” ujarnya.
Pelanggannya itu yang menjadi tumpuan. Dari sepetak tanah di tengah kepadatan kota, Akim mengandalkan ketekunan dan konsistensi untuk menghidupi keluarga.
Tapi, bertani di daerah pesisir seperti Papanggo punya tantangan sendiri. Lokasinya yang dekat laut bikin Akim harus pinter-pinter mengatur waktu. Air penyiramannya berasal dari aliran kali yang nyambung langsung ke laut.
Nah, masalah muncul kalau air laut sedang pasang. Kadar garamnya naik, dan itu berisiko merusak tanaman sayuran. Solusinya? Akim sering terpaksa menunggu sampai sore, saat air mulai surut, baru ia bisa menyiram dengan air yang lebih bersih. Sebuah kewaspadaan ekstra yang harus dilakukan demi menjaga kualitas daun kemanginya.
Artikel Terkait
Juru Parkir di Makassar Viral Minta Tarif Rp20.000, Polisi Amankan Pelaku
Akun Instagram Ahmad Dhani Diduga Diretas, Munculkan Promo Emas dan iPhone dengan Harga Tak Wajar
Mahfud MD: KPRP Rekomendasikan Kompolnas Jadi Lembaga Independen Pengawas Polri
Harga Emas Galeri24 Naik Rp10.000, UBS Justru Terkoreksi Rp13.000 per Gram