Unijo: Kisah Kanguru Pohon Papua yang Bergelantungan di Ambang Kepunahan

- Jumat, 30 Januari 2026 | 00:36 WIB
Unijo: Kisah Kanguru Pohon Papua yang Bergelantungan di Ambang Kepunahan

Sebut saja kata "kanguru", dan pikiran kita langsung terbang ke padang rumput Australia yang terbentang luas. Hewan dengan lompatan jauh dan tubuh tinggi. Tapi tahukah Anda? Di belahan timur Indonesia, tepatnya di dalam hutan hujan Papua yang lembap dan lebat, hidup kerabat kanguru yang sama sekali lain karakternya. Makhluk ini tidak melintasi tanah terbuka. Ia justru menghabiskan waktunya memanjat, bergelantungan, dan menghilang di balik kerimbunan kanopi hutan. Namanya kanguru pohon, atau 'unijo' dalam sebutan lokal masyarakat Papua.

Secara ilmiah, mereka tergabung dalam genus Dendrolagus dan masih sekeluarga dengan kanguru darat biasa. Namun, jalur evolusinya mengambil belokan yang tajam. Sejak era Pliosen, tekanan hidup di hutan hujan tropis yang vertikal memaksa mereka beradaptasi menjadi penghuni pohon yang lincah dan senyap. Seperti diungkap Tim Flannery dalam bukunya, lingkungan inilah yang membentuk tubuh mereka secara radikal.

Bandingkan dengan kanguru Australia. Tubuh kanguru pohon lebih pendek dan kompak. Kaki belakangnya tidak terlalu panjang, tapi justru kuat dan fleksibel untuk mencengkeram. Kuku-kukunya melengkung tajam, sempurna untuk mencengkam batang pohon yang licin. Telapak kakinya lebar, kasar, dan empuk berfungsi seperti bantalan alami. Ekornya yang panjang pun bukan sekadar hiasan, melainkan alat keseimbangan utama saat mereka melompat dari dahan ke dahan.

Bulu mereka tebal dan lembut, melindungi dari suhu malam yang lembap. Warna bulunya beragam; ada yang cokelat kusam, merah kecokelatan, bahkan kuning keemasan. Pola warna ini membantu mereka menyamar di antara dedaunan. Menurut Colin Groves, Papua adalah pusat keanekaragaman kanguru pohon di seluruh dunia.

Hingga kini, para ilmuwan mengenali lebih dari dua belas spesies. Sebagian besar hidup di Papua dan Papua Nugini. Di Indonesia, kita masih bisa menemukan spesies seperti dingiso, goodfellowi, atau mbaiso di hutan-hutan pegunungan. Australia sendiri hanya punya dua spesies. Fakta ini jelas menegaskan bahwa Papua adalah rumah utama bagi makhluk unik ini.

Kalau kanguru darat aktif di siang hari, sepupu pohonnya ini justru lebih banyak bergerak saat malam. Mereka bisa disebut nokturnal ringan. Siang hari biasanya dihabiskan untuk beristirahat di cabang-cabang tinggi yang aman. Malam barulah waktu untuk mencari makan dan menjelajah. Roger Martin dan Mark Eldridge mencatat, aktivitas malam membantu mengurangi risiko serangan predator dan gangguan dari manusia.

Makanan mereka sepenuhnya vegetarian: daun muda, bunga, buah hutan, sampai tunas dan kulit kayu. Tapi mereka ternyata pemilih. Tidak semua daun akan dimakan. Pilihannya sangat bergantung pada kandungan nutrisi dan seberapa mudah makanan itu dicerna. Pola makan yang selektif ini, seperti dicatat dalam laporan konservasi tertentu, ternyata turut membantu menjaga regenerasi vegetasi hutan.

Sebagai marsupial, sistem reproduksinya unik. Masa kehamilan betina sangat singkat, hanya sekitar 44 hari. Bayi yang lahir sangat kecil dan belum berkembang sempurna, lalu segera merangkak masuk ke kantung induknya. Di sanalah ia akan menyusu dan tumbuh selama berbulan-bulan.

Anak kanguru pohon baru mulai keluar-masuk kantung setelah berusia sekitar tujuh bulan. Proses penyapihan bisa berlangsung hingga usia 13 bulan. Dan pada umur 18 bulan, barulah ia benar-benar mandiri dan mulai membangun wilayahnya sendiri. Pola seperti ini membuat laju reproduksi mereka sangat lambat.

Kehidupan yang lambat itu sekaligus menjadi kelemahan. Satu induk hanya melahirkan satu anak per tahun. Jika induknya mati, hilanglah satu generasi. Di alam, ancaman dari ular piton atau elang sudah cukup berat. Namun, tekanan terbesar justru datang dari manusia.

Status konservasi mereka sungguh memprihatinkan. Daftar Merah IUCN tahun 2023 mencatat, sebagian besar spesies masuk kategori rentan hingga kritis. Beberapa, seperti tenkile, wondiwoi, dan mantel emas, bahkan terancam punah secara kritis. Populasinya anjlok lebih dari 80% dalam tiga dekade terakhir, terutama karena deforestasi dan perburuan.

Kisah kanguru pohon wondiwoi mungkin yang paling dramatis. Spesies ini pertama kali dicatat Ernst Mayr pada 1928, lalu hilang dari radar ilmu pengetahuan selama lebih dari 90 tahun. Dunia mengira mereka punah.

Hingga pada 2018, sebuah ekspedisi yang dipimpin Michael Smith berhasil memotretnya kembali di Pegunungan Wondiwoi.

Penemuan ini dirayakan sebagai salah yang terpenting dalam dunia satwa belakangan ini. Para ahli, termasuk Mark Eldridge dari Australian Museum, memverifikasi bahwa ciri-ciri fisiknya cocok dengan spesimen lama. Namun, kegembiraan itu dibayangi kecemasan. Populasi wondiwoi diperkirakan sangat kecil dan terisolasi, dengan habitat yang sempit dan belum sepenuhnya terlindungi.

Di Papua sendiri, posisi kanguru pohon cukup kompleks. Ia adalah satwa liar, simbol keanekaragaman hayati, tapi juga pernah menjadi sumber protein tradisional. Banyak warga yang baru menyadari kelangkaannya setelah mendapat edukasi. Perburuan, sayangnya, masih terjadi karena minimnya informasi.

Pada akhirnya, kanguru pohon bukan sekadar hewan yang lucu untuk dilihat. Mereka adalah indikator kesehatan sebuah hutan. Hilangnya mereka dari kanopi menandakan rusaknya ekosistem itu sendiri. Menjaga unijo berarti menjaga agar hutan Papua tetap bisa bernapas. Di tengah krisis iklim dan laju deforestasi, makhluk rapuh ini mengingatkan kita: hutan bukanlah ruang kosong. Ia adalah rumah bagi kehidupan yang tak tergantikan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar