“Hasilnya saya pasok ke pasar tradisional sama ke pedagang nasi langganan,” ujarnya.
Pelanggannya itu yang menjadi tumpuan. Dari sepetak tanah di tengah kepadatan kota, Akim mengandalkan ketekunan dan konsistensi untuk menghidupi keluarga.
Tapi, bertani di daerah pesisir seperti Papanggo punya tantangan sendiri. Lokasinya yang dekat laut bikin Akim harus pinter-pinter mengatur waktu. Air penyiramannya berasal dari aliran kali yang nyambung langsung ke laut.
Nah, masalah muncul kalau air laut sedang pasang. Kadar garamnya naik, dan itu berisiko merusak tanaman sayuran. Solusinya? Akim sering terpaksa menunggu sampai sore, saat air mulai surut, baru ia bisa menyiram dengan air yang lebih bersih. Sebuah kewaspadaan ekstra yang harus dilakukan demi menjaga kualitas daun kemanginya.
Artikel Terkait
Mentan Amran Rayakan Idulfitri dan Dengarkan Aspirasi Warga di Kampung Halaman Bone
Menag Ajak Umat Islam Perkuat Empati dan Kepedulian Sosial di Idulfitri
Khatib di Makassar Ingatkan Jemaah Idul Fitri untuk Berbakti kepada Orang Tua
Bournemouth Tahan Imbang Manchester United 2-2 dalam Drama Gol Bunuh Diri dan Kartu Merah