“Hasilnya saya pasok ke pasar tradisional sama ke pedagang nasi langganan,” ujarnya.
Pelanggannya itu yang menjadi tumpuan. Dari sepetak tanah di tengah kepadatan kota, Akim mengandalkan ketekunan dan konsistensi untuk menghidupi keluarga.
Tapi, bertani di daerah pesisir seperti Papanggo punya tantangan sendiri. Lokasinya yang dekat laut bikin Akim harus pinter-pinter mengatur waktu. Air penyiramannya berasal dari aliran kali yang nyambung langsung ke laut.
Nah, masalah muncul kalau air laut sedang pasang. Kadar garamnya naik, dan itu berisiko merusak tanaman sayuran. Solusinya? Akim sering terpaksa menunggu sampai sore, saat air mulai surut, baru ia bisa menyiram dengan air yang lebih bersih. Sebuah kewaspadaan ekstra yang harus dilakukan demi menjaga kualitas daun kemanginya.
Artikel Terkait
Menerima Diri di Awal Tahun: Antara New Me dan Kelelahan yang Tak Terucap
Beijing Hukum Mati Bos Mafia Myanmar, Sinyal Keras untuk Pelaku Penipuan Lintas Batas
AS Cabut Staf Non-Darurat dari Niger Usai Serangan ISIS di Bandara Niamey
Siklus Keracunan MBG: Klarifikasi, Maaf, dan Janji yang Tak Pernah Tuntas