Awal tahun. Rasanya hampir selalu sama: muncul lagi kalimat klise itu, "New Year, New Me." Seolah-olah dengan hanya membuka halaman kalender baru, kita langsung mendapat tiket untuk mengubah diri menjadi sosok yang lebih baik, lebih ideal, dan jujur saja seringkali lebih melelahkan.
Di balik semangat itu, ada kelelahan yang jarang diakui. Lelah karena merasa belum pernah cukup. Lelah membandingkan hidup kita dengan standar tinggi yang kita sendiri yang ciptakan. Jadi, pertanyaannya mungkin bukan cuma soal ingin berubah. Tapi, sejauh apa perubahan itu perlu? Dan yang paling penting, dengan sikap batin seperti apa kita memulainya?
Memandang Diri Apa Adanya
Banyak orang menyambut 2026 dengan rasa tak puas pada diri sendiri. Padahal, menurut teori Self-Acceptance dari Arthur Thomas Jersild (1978), perubahan yang sehat tak pernah lahir dari kebencian. Semuanya berawal dari bagaimana kita memandang diri sendiri, bukan dari penilaian orang lain terhadap kita. Penerimaan dimulai dari sana.
Antara Kelemahan dan Kekuatan
Jersild bilang, penerimaan diri itu tercermin dari sikap kita terhadap kelemahan dan kekuatan baik milik kita maupun orang lain. Menerima diri bukan berarti merasa paling hebat, tapi juga bukan terus-terusan merendahkan diri. Sayangnya, dalam euforia "New Year, New Me", kita cenderung fokus pada kekurangan. Kita lupa, setiap orang punya kombinasi unik antara keterbatasan dan potensi. Keduanya layak dapat tempat.
Inferioritas itu Manusiawi
Nah, soal rasa inferior. Menurut Jersild, perasaan tertinggal atau tak percaya diri itu bukan tanda gagal. Itu gejolak alami dalam proses menerima diri. Masalahnya muncul ketika kita menjadikan perasaan itu sebagai identitas tetap. Penerimaan diri membantu kita melihatnya sebagai sinyal untuk refleksi, bukan sebagai patokan nilai kita.
Cara Kita Menghadapi Kritik
Bagaimana kita merespons kritik juga jadi penanda. Orang yang menerima dirinya tak kebal dari kritik, tapi juga tak mudah runtuh karenanya. Di awal tahun, saat evaluasi diri berbaur dengan suara-suara dari luar, penerimaan diri berperan sebagai penyaring. Ia membantu memilah: mana masukan yang perlu ditindaklanjuti, dan mana yang cukup dibiarkan lewat.
Diri Nyata dan Diri Ideal
Ini poin kunci dari Jersild: keseimbangan antara diri nyata (real self) dan diri ideal (ideal self). Memang wajar ada jarak di antara keduanya. Tapi kalau jaraknya terlalu lebar? Itu bisa jadi sumber kecemasan dan kebencian. Konsep "New Year, New Me" seringkali malah memperlebar jurang itu. Kita sibuk mengejar sosok ideal hingga lupa merawat diri yang sedang berproses hari ini.
Artikel Terkait
Gus Yahya Tegaskan Visi NU Sejalan dengan Semangat Proklamasi
Gus Yahya Tegaskan Visi NU Sebagai Jiwa Republik di Harlah Satu Abad
Jokowi Pasang Kuda-kuda, Prabowo-Gibran Dua Periode Jadi Target Ketiga
Jalan Lintas Aceh Tengah–Bener Meriah Amblas, Tanah Bergerak Sejak 2002