Menerima Diri di Awal Tahun: Antara New Me dan Kelelahan yang Tak Terucap

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:00 WIB
Menerima Diri di Awal Tahun: Antara New Me dan Kelelahan yang Tak Terucap

Menerima Diri, Lalu Menerima Orang Lain

Menariknya, penerimaan diri ternyata berkait erat dengan kemampuan menerima orang lain. Saat seseorang berdamai dengan dirinya sendiri, ia tak lagi sibuk membandingkan atau merendahkan hidup orang. Di tengah budaya perbandingan yang kian kuat terutama di media sosial awal tahun ini jadi latihan empati yang penting. Setiap orang punya ritme dan bebannya sendiri-sendiri.

Antara Kehendak Pribadi dan Pamer

Penerimaan diri juga terlihat dari keseimbangan antara menuruti kehendak sendiri dan keinginan untuk pamer. Individu yang sudah menerima dirinya tak perlu terus-menerus membuktikan nilai lewat pengakuan eksternal. Perubahan tak harus selalu dipertontonkan. Tidak semua pertumbuhan perlu diumumkan ke seluruh dunia.

Spontan dan Menikmati Hidup

Aspek lain yang sering terlupakan: spontanitas dan kemampuan menikmati hidup. Penerimaan diri memungkinkan kita menjalani hidup dengan lebih ringan, tanpa tekanan untuk selalu tampil sempurna atau produktif setiap detik. Awal tahun tak harus selalu diisi target besar nan menegangkan. Ada nilai dalam jeda, dalam proses yang pelan, dan dalam kesadaran menjalani hari.

Dimensi Moralnya

Jersild juga menegaskan, penerimaan diri punya dimensi moral. Menerima diri bukan berarti membenarkan semua perilaku buruk. Justru sebaliknya, ini tentang berani mengakui kesalahan tanpa tenggelam dalam rasa bersalah yang berkepanjangan. Dengan cara ini, penerimaan diri justru memperkuat tanggung jawab pribadi, bukan melemahkannya.

Sikap terhadap Penerimaan Diri

Terakhir, semuanya kembali pada sikap kita sendiri. Apakah kita menganggap penerimaan diri sebagai bentuk kelemahan, atau justru sebagai tanda kedewasaan? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan bagaimana kita menjalani perubahan.

Mungkin di 2026 ini, kita tak perlu menjadi orang yang sama sekali baru. Mungkin yang lebih dibutuhkan adalah berhenti sejenak memusuhi diri sendiri. Lalu, bertumbuh dari titik itu.

Jadi, "New Year, New Me" tak harus dimaknai sebagai penolakan terhadap diri yang lama. Seperti dijelaskan Jersild, dengan penerimaan diri, perubahan justru bisa terasa lebih jujur, lebih sadar, dan yang paling penting lebih manusiawi.


Halaman:

Komentar