Louis Vuitton Hantamkan Zaman di Istana Kepausan

- Minggu, 14 Desember 2025 | 15:42 WIB
Louis Vuitton Hantamkan Zaman di Istana Kepausan

Koleksi cruise atau resort itu kan awalnya cuma untuk kalangan elit. Mereka yang bisa kabur ke tempat tropis pas musim dingin. Tapi sekarang? Koleksi pramusim ini udah berubah total. Rumah mode pakai itu buat menjual gaya ke khalayak global, yang iklimnya beda-beda. Gayanya pun nggak melulu soal liburan lagi. Ambil contoh koleksi Cruise 2026 Louis Vuitton. Nicolas Ghesquière sajikan sesuatu yang dramatis, penuh kilauan.

Acaranya sendiri digelar di Palais des Papes, Avignon. Lokasinya di Prancis Selatan itu bener-bener epic. Istana kepausan abad ke-14 ini kan bekas benteng sekaligus pusat kekristenan Barat dulu. Gedung gotik raksasa yang jadi warisan UNESCO itu sekarang jadi panggung fashion. Ghesquière ambil tema abad pertengahan, lalu ditabrakkan dengan elemen modern dan futuristik. Hasilnya? 45 tampilan yang teatrikal banget.

Suasana di Cour d’Honneur waktu itu magis. Para tamu duduk di kursi kayu berbalut beludru merah, sandarannya tinggi-tinggi. Bisa dilihat wajah-wajah seperti Brigitte Macron, Emma Stone, sampai Saoirse Ronan ada di sana. Mereka nonton, tapi sekaligus jadi bagian dari pertunjukan. Soalnya, sang direktur kreatif main lagi dengan format ‘siapa yang nonton siapa’. Itu sih udah jadi ciri khas beberapa pagelaran Louis Vuitton belakangan.

Pertunjukannya sendiri dibuka cukup mengejutkan. Model pertama muncul dengan gaya baju zirah… tapi versi di atas lutut. Warna biru metalik, merah, dan kuning yang cerah bikin tampilannya nggak kuno. Ditambah gaya bawa tas yang santai, kita langsung tersadar: ini bukan adegan sejarah.

Benturan era emang jadi benang merahnya. Mantel satu lengan dipadu boots bermosaik kaca. Lalu ada sentuhan glam rock yang beradu dengan kemegahan abad pertengahan. Kerah tinggi ala bangsawan dan motif jacquard keemasan muncul di sana-sini.

Namun begitu, benturannya nggak cuma soal zaman. Gaya pun saling tabrak. Perempuan-perempuan Louis Vuitton kali ini mengambil inspirasi dari mana aja. Dari cara dandan kesatria, biarawati, dayang, sampai penari klub malam. Pokoknya campur aduk.

Lihat aja gaun panjang dari lurex yang glamor ala 70-an. Atau rok mini fuchsia potongan asimetris yang dipadu jaket santai. Tunik pendek berkilauan dengan detail rumit. Lalu ada gaun jubah hitam bergaya gothic, lengkap dengan rantai logam dan bawahan terbelah, ditambah rok origami putih di dalamnya. Bikin mikir, ini buat rahib, penjaga istana, atau cewek kekinian?

Siluet teater kuno itu juga merambah ke karya kulit. Garis arsitektur dan sentuhan metalik terasa di tas, sepatu, dan aksesori. Seolah-olah peninggalan masa lalu dibayangkan ulang.

Detailnya sampai ke alas kaki. Boots-bootsnya dihiasi pecahan cermin, ada yang terbuka di jari kaki. Tas Alma yang ikonik dihias motif-motif yang biasa menghiasi kastil tua. Monogram LV muncul di tas bentuk peti harta karun. Lalu tiba-tiba, ada topi anyaman rotan sederhana yang mengingatkan pada keranjang.

Kemegahan istana itu dapat kontras yang menarik. Empat keranjang kayu karya seniman Thomas Roger hadir di tengah pameran. Barang artisanal yang terkesan spontan dan membumi dari kayu, kanvas, dan tali kulit.

Dan di situlah, mungkin, Ghesquière kasih benturan terakhirnya. Sebuah sentuhan realita di tengah fantasi yang ia ciptakan.

Penulis: Rifina Marie

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler