Siklus Keracunan MBG: Klarifikasi, Maaf, dan Janji yang Tak Pernah Tuntas

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:20 WIB
Siklus Keracunan MBG: Klarifikasi, Maaf, dan Janji yang Tak Pernah Tuntas

Siklus MBG: Ritual Bulanan yang Seolah Tak Pernah Usai

Rasanya kita sudah hafal di luar kepala. Setiap bulannya, skenario yang sama berputar lagi dan lagi. Seperti rekaman yang diputar ulang, atau drama komedi yang alurnya sudah bisa ditebak sejak adegan pertama. Padahal, ini bukan bahan tertawaan.

Pertama, mereka masak. Lalu, hidangan itu disantap banyak orang. Tak lama setelahnya, berita keracunan pun muncul. Korban berjatuhan.

Dan di sinilah klimaksnya selalu sama.

Bukannya langsung introspeksi, yang keluar justru pernyataan klarifikasi. Seringkali disertai tudingan ada pihak lain yang disabotase, atau antek-antek yang ingin menjatuhkan. Pernyataan serius itu kadang ditutup dengan emoji ketawa, seolah ini semua hanya lelucon belaka.

Setelah tekanan publik makin keras, barulah suasana berubah. Ada tangisan, permintaan maaf yang terdengar khidmat, dan tentu saja, janji manis bahwa kejadian serupa takkan terulang.

“Kami berjanji akan memperbaiki sistem,” begitu kira-kira bunyinya.

Namun begitu, semua tahu apa yang terjadi bulan depan. Ritual ini akan berjalan lagi dari awal. Masak, makan, keracunan, klarifikasi, lalu minta maaf. Begitu terus, seakan-akan hingga akhir zaman nanti.

Nah, bandingkan dengan nasib rumah makan biasa. Coba bayangkan jika keracunan massal terjadi di sebuah kedai atau restoran kecil. Dampaknya langsung nyata dan tanpa ampun. Pemiliknya bisa langsung diciduk, izin usaha dicabut, dan pintunya ditutup paksa untuk selamanya. Selesai urusan.

Di sisi lain, kritik untuk MBG seringkali berbalas hujatan. Yang mengkritik dituding tidak bersyukur, tidak beradab, atau bahkan diintimidasi secara halus. Tapi ketika kesalahan di pihak mereka terbukti nyata, cukup dengan satu permintaan maaf, segalanya seolah selesai. Seperti mantra yang menghapus semua kesalahan.

Memang, beginikah caranya?

(Muhammad Rajab Hasibuan)

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler