“Kami berjanji akan memperbaiki sistem,” begitu kira-kira bunyinya.
Namun begitu, semua tahu apa yang terjadi bulan depan. Ritual ini akan berjalan lagi dari awal. Masak, makan, keracunan, klarifikasi, lalu minta maaf. Begitu terus, seakan-akan hingga akhir zaman nanti.
Nah, bandingkan dengan nasib rumah makan biasa. Coba bayangkan jika keracunan massal terjadi di sebuah kedai atau restoran kecil. Dampaknya langsung nyata dan tanpa ampun. Pemiliknya bisa langsung diciduk, izin usaha dicabut, dan pintunya ditutup paksa untuk selamanya. Selesai urusan.
Di sisi lain, kritik untuk MBG seringkali berbalas hujatan. Yang mengkritik dituding tidak bersyukur, tidak beradab, atau bahkan diintimidasi secara halus. Tapi ketika kesalahan di pihak mereka terbukti nyata, cukup dengan satu permintaan maaf, segalanya seolah selesai. Seperti mantra yang menghapus semua kesalahan.
Memang, beginikah caranya?
(Muhammad Rajab Hasibuan)
Artikel Terkait
Polisi Ringkus Komplotan Pencuri Motor yang Beraksi Puluhan Kali di Makassar dan Gowa
Kementan Genjot Mitigasi Kemarau untuk Jaga Produktivitas Perkebunan
Real Madrid Hancurkan Manchester City, Vinícius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral