Eksekusi sebelas anggota klan mafia Myanmar oleh pemerintah China memang bikin bergidik. Tapi bagi Beijing, ini bukan soal kejutan. Ini soal pesan yang harus disampaikan, dan sudah lama ditunggu.
China, seperti kita tahu, punya catatan eksekusi paling banyak di dunia meski angka pastinya selalu tertutup rapat. Hukuman mati di sana bukan hal baru, bahkan untuk kasus korupsi sekalipun. Nah, kasus keluarga Ming ini dianggap lebih parah lagi. Jaringannya melibatkan kekerasan brutal dan penipuan lintas negara, dengan korban yang jumlahnya sangat besar.
Semua ini berpusat di Laukkaing, kota perbatasan di Negara Bagian Shan, Myanmar timur laut. Sejak 2009, wilayah itu dikuasai oleh empat klan: Ming, Bau, Wei, dan Liu. Mereka mengambil alih dari kelompok bersenjata etnis MNDAA, setelah militer Myanmar yang kala itu dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing melancarkan operasi besar-besaran.
Dari Candu ke Penipuan Digital
Awalnya, bisnis mereka adalah opium dan metamfetamin. Tapi lama-lama, mereka beralih. Kasino-kasino dibangun, lalu berkembanglah usaha yang jauh lebih menggiurkan: penipuan daring berskala internasional.
Kedekatan mereka dengan militer Myanmar sangat jelas. Desember 2021 lalu, Min Aung Hlaing sendiri memberi penghargaan ke Liu Zhengxiang, bos klan Liu, atas "kontribusinya" bagi negara. Perusahaan mereka menjalar ke mana-mana, bahkan ada yang terjun ke politik.
Tapi di balik itu, Laukkaing adalah neraka. Kompleks penipuan yang mereka jalankan terkenal sadis. Kekerasan dan penyiksaan adalah menu harian.
Puluhan ribu orang banyak di antaranya warga China dijebak dengan iming-iming kerja bergaji tinggi. Alih-alih dibayar, mereka malah dikurung dan dipaksa menipu. Targetnya? Sesama warga China juga, lewat skema "pig butchering". Keluhan korban pun membanjiri media sosial.
Pemicu Amarah Beijing
Semua meledak setelah insiden di Crouching Tiger Villa, kompleks milik keluarga Ming, pada Oktober 2023. Sejumlah warga China tewas ditembak saat berusaha kabur. Kejadian itu jadi viral, memicu kemarahan publik yang luar biasa. Beijing akhirnya turun tangan.
Dengan restu dari China, kelompok MNDAA dan sekutunya menyerbu Laukkaing dan merebutnya kembali. Janjinya: tutup semua pusat penipuan.
Para bos klan pun diciduk. Lebih dari 60 anggota keluarga dan anak buahnya diserahkan ke polisi China. Ming Xuechang, sang patriark klan Ming, dilaporkan bunuh diri dalam tahanan.
Yang bikin merinding, dalam pemeriksaan, salah satu anggota keluarga mengaku pernah membunuh orang secara acak hanya untuk pamer kekuasaan. Otoritas China sengaja membeberkan pengakuan ini, sebagai pembenaran untuk hukuman yang mereka jatuhkan.
Saat ini, lima anggota klan Bau masih menunggu giliran eksekusi. Sementara proses hukum untuk keluarga Wei dan Liu masih berjalan.
Kejahatan yang Terlalu "Dekat Rumah"
Keempat klan ini etnis Tionghoa. Mereka punya koneksi kuat dengan aparat di Provinsi Yunnan, China. Skala kejahatan mereka, yang mayoritas korbannya warga China sendiri, dianggap sudah melampaui batas. Beijing tak bisa lagi tutup mata.
Operasi di Laukkaing adalah tindakan terkeras China sejauh ini dalam memerangi penipuan lintas negara. Mereka juga mendesak Thailand dan Kamboja untuk mengekstradisi para bos judi dan penipuan yang berkeliaran di Asia Tenggara.
Tak hanya pelaku, puluhan ribu warga China yang terjebak kerja paksa di kompleks penipuan itu juga dipulangkan untuk kemudian diadili di tanah air.
Jaringannya Tak Benar-Benar Padam
Tapi, bisnis kotor semacam ini punya nyawa yang bandel. Di Kamboja, sektor ini masih disebut-sebut sebagai salah satu penggerak ekonomi. Di Myanmar, mereka menggeser operasi ke wilayah-wilayah baru, meski beberapa pusat besar di perbatasan Thailand-Myanmar sudah digrebek.
Nah, eksekusi cepat terhadap keluarga Ming itu adalah sinyal. Jelas dan keras. Pesannya: kalau warganya dirugikan, meski kejadiannya di seberang perbatasan, Beijing akan bertindak. Tanpa ragu.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu