Pemerintah Amerika Serikat baru saja mengeluarkan peringatan keras. Kementerian Luar Negeri mereka memerintahkan seluruh pegawai non-darurat, beserta keluarga, untuk segera meninggalkan Niger. Langkah ini diambil menyusul situasi keamanan yang makin genting.
Pemicunya adalah sebuah serangan di Bandara Niamey, ibu kota Niger, yang terjadi pada Jumat (30/1). ISIS, lewat pernyataan resmi, mengklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut.
Menurut sejumlah saksi, para pelaku datang menggunakan sepeda motor. Untungnya, petugas keamanan berhasil memukul mundur mereka. Meski begitu, dampaknya cukup parah. Empat tentara Niger mengalami luka-luka. Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah pesawat sipil di bandara itu turut mengalami kerusakan.
ISIS menggambarkan aksinya sebagai "serangan mendadak dan terkoordinasi" yang berhasil menimbulkan "kerusakan signifikan". Namun begitu, kelompok itu tidak memberikan rincian lebih lanjut soal kondisi di lapangan.
"Kementerian Luar Negeri memerintahkan pegawai pemerintahan non-darurat bersama keluarganya untuk meninggalkan Niger, karena alasan keamanan,"
Demikian pernyataan resmi Kemlu AS yang dikutip AFP, Sabtu (31/1).
Ini bukan insiden pertama. Kelompok afiliasi ISIS di wilayah Sahel memang sedang gencar-gencarnya. Dalam beberapa bulan terakhir saja, mereka telah menorehkan catatan kelam. Serangan di wilayah Tillaberi pada September lalu menewaskan 120 orang. Lalu, pada Oktober, mereka berhasil menculik seorang pilot berkebangsaan Amerika. Situasinya benar-benar memanas.
Jadi, imbauan untuk meninggalkan Niger itu bukan tanpa alasan. Keamanan di sana benar-benar di ujung tanduk.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu