JAKARTA – Musim Super League 2025/2026 sudah masuk ke fase yang bikin deg-degan. Di puncak klasemen, tiga tim besar Persib Bandung, Borneo FC, dan Persija Jakarta bisa dibilang sudah aman. Degradasi? Rasanya mustahil buat mereka. Tapi ceritanya beda banget di bagian bawah tabel. Di sana, pertarungan buat bertahan justru makin sengit dan mencekam.
Kepastian itu bukan cuma omongan. Secara hitungan matematis, posisi ketiga tim itu sudah kebal. Ambil contoh tim-tim di zona merah kayak Madura United, Semen Padang, dan Persis Solo yang baru ngumpulin 20 poin. Dengan sisa sembilan laga, poin maksimal yang bisa mereka raih cuma 47.
Sementara itu, Persija udah nyampe 50 poin. Borneo dan Persib bahkan lebih tinggi lagi. Jadi, secara angka, tim zona degradasi jelas nggak mungkin nyamain.
Tapi ya itu, ketenangan di atas nggak ada hubungannya sama kekacauan di bawah. Zona degradasi malah makin panas. Selisih poin yang tipis bikin setiap laga jadi pertaruhan hidup-mati. Satu hasil buruk bisa langsung berabe.
Persijap Jepara, misalnya. Dengan 21 poin, mereka masih aja kepayahan. Posisinya masih sangat rentan. Begitu juga PSM Makassar yang punya 24 poin. Mereka belum bisa tidur nyenyak. Satu kekalahan bisa langsung nyeret mereka balik ke zona merah.
Di situasi kayak gini, konsistensi itu mahal harganya. Satu kemenangan bisa jadi penyelamat, tapi satu hasil negatif bisa bikin semuanya berantakan.
Artikel Terkait
PSG Minta Penundaan Laga Kontra Lens, Kontroversi Jadwal Kembali Mencuat
Chelsea Siap Tawar €40 Juta untuk Bek AC Milan, Strahinja Pavlovic
PSG Minta Penundaan Laga Lawan Lens, Klub Pesaing Tolak Tegas
Dari Pasar Sapi ke Podium Moto3: Perjalanan Veda Ega Pratama