JAKARTA – Tepuk tangan gemuruh menggema di Sirkuit Interlagos, Brasil. Veda Ega Pratama baru saja meraih podium ketiga Moto3, sebuah pencapaian yang membanggakan. Tapi kisahnya tidak dimulai di sirkuit mewah berstandar dunia. Semua berawal dari sebuah tempat yang jauh dari bayangan glamor: Pasar Sapi Siyono di Gunungkidul. Di sanalah, di antara debu jalanan dan bau khas ternak, bakat seorang calon juara dunia pertama kali diasah.
Sudarmono, ayah sekaligus pelatih Veda yang kini berusia 40 tahun, mengakui dengan jujur. Latar belakang keluarga mereka bukanlah dari fasilitas serba wah. “Dari Pasar Sapi Veda lahir sebagai pembalap,” ujarnya. “Sekarang dia sudah balapan di kelas internasional.”
Semuanya berawal dari sebuah motor GP mini. Saat Veda masih empat tahun, Sudarmono yang juga seorang pembalap mulai memperkenalkan dunia otomotif pada putranya. Rupanya, ketertarikan itu langsung terlihat. Tak lama kemudian, Sudarmono membawa Veda kecil ke Alun-Alun Wonosari untuk belajar dasar-dasar mengendarai motor.
“Veda naik motor GP mini muter-muter di Alun-Alun Wonosari,” kenang Sudarmono.
Keputusan membelikan motor itu tentu punya maksud. Sebagai seorang profesional di lintasan, Sudarmono penasaran, apakah bakatnya akan menurun. Dan ternyata, dugaan itu benar. “Ya, darah seorang pembalap juga mengalir di Veda,” katanya.
Sebelum akhirnya mencium aspal di Pasar Sapi, Veda lebih dulu ditempa di jalur tanah. Di usia enam tahun, ia sudah ikut balapan motor cross kelas kecil. Hanya dalam setahun, pembalap asal Wareng ini berhasil mengoleksi berbagai gelar juara. Mentalnya mulai terbentuk.
“Berlanjut terus balapan motor cross sampai umur 7 tahun, mental pembalapnya sudah terbentuk,” tutur Sudarmono.
Melihat ketekunan dan keberanian putranya, Sudarmono pun mengambil langkah lebih serius. Ia meracik sebuah motor bebek khusus untuk Veda. Dan pada 2016, saat Veda menginjak usia delapan tahun, babak latihan intensif pun dimulai. Tiga kali seminggu, di Pasar Hewan Siyono, mereka berdua berlatih.
“Umur 8 tahun sudah saya latih balapan menggunakan motor bebek. Kali pertama Veda menginjak aspal di Pasar Sapi Siyono,” cerita Sudarmono.
Lahan pasar itu disulap menjadi sirkuit simulasi. Dengan ban-ban mobil bekas, Sudarmono membuat rute berkelok penuh tantangan. Tikungan tajam sengaja ia ciptakan, kadang di tempat yang tak terduga, bahkan di jalur lurus sekalipun. Tujuannya satu: mengasah refleks dan ketangkasan Veda.
Latihan keras selama setahun penuh di tempat itu akhirnya membuahkan hasil. Veda, di usia sembilan tahun, berhasil masuk program penjenjangan resmi di bawah Honda. Kariernya melesat. Usia 11 tahun ia sudah masuk kelas nasional, dan di usia 12 tahun, ia menyandang gelar juara nasional.
“Iya balapan road race, motor bebek itu,” ujar Sudarmono sambil mengenang masa-masa awal kompetisi tersebut.
Kini, semua kerja keras dan keringat yang tertumpah di Pasar Sapi itu terbayar sudah. Fondasi yang kokoh itulah yang membawa Veda Ega Pratama berdiri gagah di podium Moto3 Brasil, meraih tempat ketiga. Sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari debu dan semangat di sebuah pasar sapi.
Artikel Terkait
Dua Mantan Striker PSM Jadi Penentu Promosi Adhyaksa FC dan Garudayaksa ke Super League
Gol Tunggal Adilson Silva Bawa Adhyaksa FC Promosi ke Super League 2026/2027
Empat Pemain Asing Super League Jadi Buruan Utama Klub Besar Musim Depan
1.300 Pelari Siap Ikuti Livin Galesong Trail Run 2026, Bupati Gowa akan Lepas Langsung