Dua Mantan Striker PSM Jadi Penentu Promosi Adhyaksa FC dan Garudayaksa ke Super League

- Jumat, 08 Mei 2026 | 19:30 WIB
Dua Mantan Striker PSM Jadi Penentu Promosi Adhyaksa FC dan Garudayaksa ke Super League

Di tengah hiruk-pikuk persaingan memperebutkan tiket promosi ke Championship League musim 2025/2026, sebuah pola menarik muncul dan sulit untuk diabaikan. Klub-klub yang berhasil menembus Super League musim depan ternyata memiliki satu kesamaan signifikan: mereka diperkuat oleh para mantan penyerang PSM Makassar era kepelatihan Bernardo Tavares.

Nama Adilson Silva dan Everton Nascimento kini berdiri sebagai simbol keberhasilan tersebut. Dua striker yang pernah menjadi bagian dari proyek besar PSM Makassar justru menemukan performa terbaiknya di tempat yang berbeda. Mereka bukan lagi sekadar mantan pemain Juku Eja, melainkan aktor utama yang menentukan nasib klub masing-masing.

Adilson Silva menjelma menjadi pahlawan bagi Adhyaksa FC. Sementara itu, Everton Nascimento menjadi salah satu kunci kebangkitan Garudayaksa FC. Keduanya sama-sama mengantarkan tim promosi ke Super League musim depan.

Kisah paling dramatis terjadi di Stadion Lukas Enembe saat Adhyaksa FC menghadapi Persipura Jayapura dalam laga playoff promosi. Pertandingan berlangsung tegang sejak menit awal. Persipura tampil agresif melalui tekanan Ramai Rumakiek dan Kelly Sroyer. Namun, di tengah tekanan itu, Adhyaksa FC memiliki satu sosok yang mampu membuat perbedaan: Adilson Silva.

Pada menit 45 1, striker asal Portugal itu mencetak gol yang mengubah segalanya. Menerima umpan matang di dalam kotak penalti, Adilson tetap tenang meski sempat kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya melepaskan tembakan yang gagal dihentikan kiper Persipura. Gol tersebut menjadi penentu kemenangan 1-0 sekaligus memastikan Adhyaksa FC merebut tiket terakhir menuju Super League 2026/2027.

Namun, gol itu bukan sekadar penentu promosi. Lesakan tersebut juga menjadi simbol lahirnya kembali seorang striker yang sempat dianggap gagal di PSM Makassar. Musim ini, Adilson benar-benar menggila bersama Adhyaksa FC. Hingga akhir kompetisi, ia mengoleksi 26 gol hanya dari 27 pertandingan sebuah statistik yang terasa nyaris mustahil disaingi pemain lain di Championship.

Produktivitasnya bahkan dihiasi penampilan luar biasa. Adilson pernah mencetak enam gol dalam satu pertandingan saat menghadapi Sriwijaya FC. Ia juga memborong empat gol ketika melawan PSPS Pekanbaru. Ketajamannya membuat Adhyaksa FC membangun permainan sepenuhnya untuk memaksimalkan insting predatornya di kotak penalti.

Ironisnya, pemain yang kini menjadi mesin gol paling menakutkan di Championship itu pernah kesulitan menunjukkan performa terbaik bersama PSM Makassar. Didatangkan dari klub Portugal, Real SC, pada 2023, Adilson sempat menjanjikan di musim pertama lewat delapan gol. Namun, performanya perlahan menurun. Ia kesulitan menjaga konsistensi hingga akhirnya kehilangan tempat di tim utama. PSM kemudian memutuskan melepasnya pada pertengahan musim 2024/2025.

Kini, keputusan tersebut terasa seperti ironi besar. Lepas dari tekanan di Makassar, Adilson justru menemukan kembali identitasnya sebagai striker mematikan. Ia tampil lebih percaya diri, lebih tajam, dan menjadi pusat permainan tim. Perubahan sistem juga menjadi faktor penting di balik kebangkitannya. Saat bersama PSM, Adilson sering dipaksa turun terlalu dalam untuk membantu pressing dan transisi permainan, sehingga ia kehilangan efektivitas di area berbahaya. Sebaliknya, di Adhyaksa FC, ia dimainkan sebagai target man murni. Tim dibangun untuk memaksimalkan kemampuan finishing miliknya. Hasilnya terlihat sangat jelas.

Sementara itu, kisah sukses lain datang dari Garudayaksa FC. Klub yang juga memastikan promosi ke Super League musim depan itu diperkuat Everton Nascimento, striker yang pernah menjadi bagian dari skuad PSM Makassar. Dalam laga penentuan melawan Persikad Depok di Stadion Pakansari, Everton tampil sebagai pembeda. Gol yang ia cetak pada menit ke-59 memastikan kemenangan 3-1 sekaligus mengunci tiket promosi Garudayaksa. Gol itu terasa penting bukan hanya karena nilainya di papan skor, tetapi juga karena menunjukkan mental seorang striker yang hadir pada momen menentukan.

Usai pertandingan, Everton tidak menyembunyikan rasa bahagianya. “Terima kasih kepada manajemen dan pelatih. Kami bersama-sama membawa Garudayaksa ke Liga 1 musim depan. Kami berhasil mencapai target ini untuk Garudayaksa,” ujar Everton.

Fenomena Adilson dan Everton seolah mempertegas bahwa sistem yang dibangun Bernardo Tavares di PSM Makassar sebenarnya berhasil membentuk fondasi kuat bagi para pemain depan. Meski tidak semua langsung bersinar di Makassar, banyak yang justru berkembang setelah menemukan lingkungan dan peran yang lebih sesuai. Hal serupa juga terlihat pada Viktor Mansaray yang kini menjadi bagian penting Persipura Jayapura. Meski tidak setajam Adilson, keberadaannya kembali menunjukkan pola yang sama: eks pemain PSM tetap memiliki nilai besar di klub lain.

Situasi ini pada akhirnya menghadirkan pertanyaan menarik bagi PSM Makassar sendiri. Apakah para pemain itu dilepas terlalu cepat? Ataukah mereka memang membutuhkan ruang berbeda untuk berkembang? Kasus Adilson menjadi contoh paling jelas. Dari striker yang sempat diragukan, ia kini berubah menjadi predator paling mematikan di Championship.

Kini, rumor reuni dengan PSM Makassar mulai bermunculan. Namun, jalan menuju reuni itu tidak akan mudah. Persib Bandung, Persija Jakarta, hingga Persebaya Surabaya disebut ikut memantau situasinya. Di titik ini, Adilson bukan lagi pemain pelapis yang dipandang sebelah mata. Ia sudah berkembang menjadi striker matang dengan positioning kuat, naluri gol tajam, dan kemampuan membaca ruang yang sangat efektif.

Pada akhirnya, kisah Adilson Silva dan Everton Nascimento bukan sekadar cerita tentang promosi atau statistik gol. Ini adalah cerita tentang perjalanan pemain yang ditempa dalam tekanan, jatuh dalam keraguan, lalu bangkit di tempat berbeda hingga akhirnya kembali membuktikan kualitasnya di panggung sepak bola Indonesia.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar