Ia tak sungkan menyebut sebagian pemain sebelumnya terlalu nyaman. Terjebak di zona aman.
Namun begitu, di balik risiko besar itu, Seslija justru optimis. Ia melihat sinyal positif dari para pendatang baru.
Ia memuji profesionalisme pemain asing yang langsung bisa beradaptasi. Mentalitas seperti itulah kunci yang dicari-cari Persis.
Kasus Persis ini memperlihatkan satu hal: masalah mentalitas di liga kita itu nyata dan sering terulang. PSM Makassar contohnya, mereka pernah mengalami fase kepercayaan diri yang hancur berantakan.
Sepak bola modern memang mengandalkan taktik canggih dan teknik individu. Tapi semua itu bisa buyar kalau mental tim lemah. Tanpa mental kompetitif yang kuat, susah keluar dari tekanan.
Jadi, perombakan skuad oleh Persis bukan cuma sekadar ganti pemain. Ini lebih pada upaya membangun ulang karakter tim. Fondasi itulah yang diharap bisa mengangkat Laskar Sambernyawa dari keterpurukan, lalu kembali bersaing.
Artikel Terkait
Sávio Roberto Akhiri Paceklik, Selamatkan PSM dari Kekalahan di Ternate
Real Madrid Hajar Manchester City 3-0 di Leg Pertama Liga Champions
Manchester United Siapkan Lima Nama Calon Pengganti Michael Carrick
Persela Lamongan Manfaatkan Jeda Kompetisi untuk Perbaikan Fisik dan Taktik